Mode Kapibara: Saat Otak Berhenti Panik dan Hidup Jalan Lagi

by - 12:00 AM


Rasanya belakangan ini saya hidup dalam mode kapibara. Tenang, tidak reaktif, tidak gampang kaget. Termasuk saat merekam keseharian anak—hal yang dulu sempat membuat kepala saya penuh skenario kriminal kelas sinetron prime time.

Dulu, setiap ingin unggah sesuatu, otak saya seperti satpam kompleks yang kebanyakan minum kopi.
Posting di sekolah?
“Rumah kosong, bisa digasak.”

Video anak sedang belajar?
“Nanti ada orang jahat, mengincar, menculik, menghilang di episode berikutnya.”

Padahal yang direkam cuma kegiatan umum: KBM, anak duduk rapi, guru mengajar, suasana yang kalau dipikir-pikir… ya biasa saja. Tapi otak lama saya bekerja dengan pola what if tanpa rem. Semua kemungkinan terburuk dipanggil rapat darurat.

Lalu mode kapibara itu aktif.

Saya berhenti sejenak dan bertanya dengan nada datar, bukan panik:
Siapa yang mengancam?
Apa motifnya?
Kenapa harus saya?
Apa yang istimewa dari video anak membaca buku di kelas selain fakta bahwa dia sedang… membaca buku?

Saya tidak punya musuh.
Saya bukan target bernilai tinggi.
Saya tidak sedang memamerkan lokasi rumah, harta, atau rahasia negara.
Ini bukan operasi intelijen. Ini cuma hidup.

Di titik itu, saya sadar: rasa takut saya sebelumnya bukan berasal dari realitas, tapi dari narasi. Narasi internet, narasi ketakutan kolektif, narasi “dunia itu jahat, jadi kamu harus selalu tegang”. Padahal hidup tidak selalu menuntut posisi siaga satu. Ada saatnya waspada, ada saatnya ya… santai.

Mode kapibara bukan berarti ceroboh. Bukan berarti menafikan risiko. Tapi berhenti membesarkan risiko yang bahkan belum lahir. Kapibara itu bukan bodoh, dia cuma tidak reaktif. Dia tahu kapan perlu lari, kapan cukup berendam.

Saya tetap tidak menulis alamat lengkap.
Tidak mengunggah jadwal detail.
Tidak membuka hal-hal privat.

Tapi saya juga tidak lagi hidup dalam ketakutan imajiner. Saya membiarkan hidup berjalan tanpa harus selalu merasa sedang dikejar sesuatu yang bahkan tidak tahu saya ada.

Dan lucunya, sejak itu, merekam keseharian anak terasa ringan. Tidak ada rasa “aduh nanti gimana”, tidak ada paranoia yang berisik. Yang ada cuma kesadaran sederhana: ini momen, ini arsip kecil kehidupan, dan tidak semua arsip adalah undangan bahaya.

Mungkin inilah versi lain dari epifani saya:
tenang bukan karena dunia aman,
tapi karena saya berhenti memusuhi kemungkinan.

Kapibara tidak naif.
Dia cuma tahu: tidak semua riak air adalah buaya.

You May Also Like

0 komentar