Manusia Baru, Batinnya Bergeser, Tapi Tetap Bisa Ngakak

by - 12:00 PM


Di dunia ini, saya belajar bahwa ekspektasi itu seperti air di gelas—terkadang tumpah ketika batin belum siap menampungnya. Dulu saya mengamati orang di pesantren yang ilmunya tidak kesampaian. Batin mereka bentur ekspektasi, tubuh dan jiwa berserabut, lalu masyarakat bilang: “Gila.” Padahal, kalau kamu duduk diam seperti saya, tersenyum di sudut, yang terjadi adalah proses adaptasi batin yang super ekstrem.

Di pekerjaan, pola sama muncul lagi. Ada teman yang tiba-tiba meledak karena deadline menumpuk, ada yang tarik diri karena komentar rekan kerja menusuk batin, ada yang tiba-tiba impulsif karena target tak tercapai. Orang lain mungkin bilang: “Aduh, ini orang nggak stabil,” tapi saya menatapnya: batin sedang bergeser, menata ulang ekspektasi, mencoba menyeimbangkan diri di dunia yang absurd.

Saya duduk, menonton semua itu seperti menonton live daster: kadang ketawa, kadang mengerutkan dahi, tapi selalu belajar. Ada yang membuka kelas AI sambil menakut-nakuti orang, ada yang jual ketakutan demi cuan, dan di samping itu, ada manusia yang diam-diam belajar menjadi baru: lebih reflektif, lebih sabar, lebih waspada tanpa panik.

Di rumah, saya lihat anak-anak belajar sambil salah, jatuh, dan bangkit lagi. Ekspektasi saya sebagai ayah terkadang tinggi, tapi batin mereka butuh ruang. Sama seperti teman kantor yang panik di tengah proyek rumit: jika batin tidak siap, ledakan kecil pun bisa terasa tsunami. Tapi perlahan, mereka menyesuaikan diri. Diam, belajar, beradaptasi. Itu manusia baru. Itu batin yang bergeser.

Yang lucu dan absurd adalah, meski batin mereka bergeser, dunia di sekitar tetap menuntut ekspektasi tinggi. Saya mengamati, kadang saya ingin tertawa: lihat manusia baru ini, sedang belajar menyeimbangkan ekspektasi, tapi orang lain malah menambahkan tekanan. Saya tersenyum nakal, “Santai saja, nanti juga dia ketawa sendiri setelah puncak stres berlalu.”

Dan saya belajar satu hal penting: pergeseran batin itu wajar, manusia baru itu nyata, tapi absurditas dunia tetap bisa ditertawakan. Sama seperti saya mengamati akun alter di live daster, yang ribut karena hal remeh, atau konten AI yang menakut-nakuti, atau penggemar anime yang debat kusir. Semua itu, kalau kamu duduk manis, hanya membuat manusia baru yang sedang belajar menata batin, semakin sadar dan kuat.

Akhirnya, saya berdiri di sudut, tersenyum, dan sadar: ekspektasi tinggi itu bukan musuh, realitas keras itu bukan bencana, dan manusia baru itu bukan gila—mereka hanya sedang belajar menyeimbangkan batin sambil tetap bisa ngakak.


You May Also Like

0 komentar