Tersenyum di Depan ODGJ, Batin Bergeser, Ayah Tetap Bisa Ngakak

by - 6:00 PM


Ternyata, manusia yang batinnya bergeser—yang oleh masyarakat cepat divonis gila—sering punya satu kemampuan yang luar biasa: tertawa di tengah absurdnya hidup. Saya menonton itu setiap hari, dari sudut pandang kapibara, sambil mengamati dunia.

Hari itu, saya sedang mengantar anak ngaji. Motor melaju pelan, angin sore menyapa wajah. Di depan rumah kosong, seorang ODGJ duduk. Ia hanya menatap kosong, tapi sesekali tersenyum atau tertawa kecil. Anak saya panik, “Ayah, jangan deket-deket!” Saya tersenyum nakal, penasaran, lalu mendekat.

Saya tanya, “Gimana kabarnya pak?”
ODGJ memperhatikan saya, lalu menjawab sekenanya, “Ya begini lah, kamu dari mana mau kemana?”

Saya kaget, karena walaupun ia sering duduk di pinggir jalan, dialog ini nyambung. Saya hanya bilang mau ke depan, motor pelan, santai.
Lalu ia menambahkan, “Anakmu cantik, ingin menjadikannya teman.”

Anak saya langsung marah campur takut, matanya membulat: “Ayah, jangan! Masa mau kasih kakak ke ODGaj?” Saya cuma tertawa, sambil mengangkat bahu. Tidak setuju, tapi juga tidak takut.

Di situ saya paham satu hal: orang yang batinnya sudah bergeser, yang divonis gila oleh banyak orang, tidak terlalu terikat ekspektasi dunia. Mereka hidup dengan absurdnya sendiri, tapi tetap bahagia, tetap bisa menertawakan segalanya—bahkan interaksi paling aneh sekalipun.

Saya pun tersenyum sendiri. Mungkin anak saya menganggap saya nekat, tapi saya belajar satu hal penting dari ODGJ: tidak semua yang aneh harus ditakuti, tidak semua yang dianggap gila harus dijauhi. Kadang, cukup duduk manis, menanggapi dengan senyum atau tawa, dan membiarkan dunia berjalan seperti biasanya.

Batin saya ikut bergeser. Saya tertawa, menertawakan diri sendiri, menertawakan ketakutan kecil yang dulu membayangi. Hidup memang absurd. Tapi kalau bisa tersenyum di tengah absurd itu, selamat, kamu manusia baru—dan sedikit usil seperti ayahnya juga.



You May Also Like

0 komentar