Saya Khawatir, Anak Saya Tertawa (Dan Dunia Tidak Runtuh)

by - 6:00 PM


Saya sempat khawatir.
Bukan karena nilai, bukan karena masa depan bangsa, bukan karena kurikulum merdeka.
Saya khawatir… karena anak saya tertawa.

Seragam sekolah anak saya ada lima. Senin sampai Jumat, ganti setiap hari. Ditambah dua seragam ekstrakurikuler. Total tujuh. Hampir seperti wardrobe orang kantoran yang sedang mengejar jati diri. Maka, setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, ritual kecil kami selalu sama: cek tas. Buku mapel? Ada. Alat tulis? Aman. Uang saku? Sudah. Seragam hari ini? Oke. Seragam eskul? Nah, ini yang sering jadi plot twist.

Pagi itu, seragam eskul sudah rapi. Disiapkan. Diletakkan. Tepat. Di. Samping. Tas.
Dan tetap… tertinggal.

Di mobil, saya tahu. Orang tua punya radar khusus untuk hal-hal begini. Tapi saya tidak marah. Saya tidak ingin marah. Saya masih ingat betul rasanya dimarahi karena lupa. Lupa yang sebenarnya sangat manusiawi, tapi dulu diperlakukan seperti kejahatan terencana.

Jadi saya geser pertanyaannya. Bukan ke arah emosi, tapi ke arah tanggung jawab.
“Nanti kalau ditanya miss pas eskul, kamu jawab apa?”

Anak saya tertawa.
Dengan ringan. Tanpa beban sejarah.
“Ya nggak pernah ditanya, Ayah. Kalau ditanya juga, bilang aja lupa.”

Lah.

Saya yang malah bengong.
Sejak kapan lupa boleh dijawab dengan jujur tanpa konsekuensi ritualistik?

Di kepala saya langsung muncul memori lama: zaman sekolah dulu, lupa ikat pinggang saja bisa dijemur di lapangan. Tidak bawa atribut = dosa struktural. Disiplin waktu itu rasanya identik dengan rasa malu yang disengaja.

Saya sempat bertanya dalam hati:
“Apakah sekolah anak saya ini terlalu lembek?”
“Apakah disiplin sudah dihapus dari kurikulum?”
“Atau ini tanda kiamat kecil?”

Ternyata bukan.

Pemakluman itu memang bagian dari pola pendidikan.
Pesannya sederhana tapi dalam:
Hari ini kamu lupa, ya sudah. Minggu depan ingat lagi. Sekarang tetap ikut eskul. Tetap belajar. Tetap jadi bagian.

Tidak ada pengusiran. Tidak ada hukuman teatrikal. Tidak ada label “anak bermasalah”.
Yang ada justru pengakuan bahwa manusia bisa salah, tanpa harus dipermalukan.

Dan di situ saya sadar kenapa anak saya tertawa.
Bukan karena tidak disiplin.
Tapi karena dunia tidak runtuh hanya karena satu lupa.

Saya yang justru perlu menyesuaikan diri.
Ternyata, disiplin tidak selalu harus lewat takut.
Kadang cukup lewat ingat, pelan-pelan, dengan kepala yang masih utuh.

Dan mungkin, itu sebabnya saya khawatir anak saya tertawa.
Karena di kepala saya yang lama, belajar selalu identik dengan tegang.
Sementara di kepala anak saya, belajar masih boleh ditemani tawa.

Saya tidak tahu mana yang lebih benar.
Tapi pagi itu, di dalam mobil, saya memilih satu hal:
lebih baik anak saya belajar bertanggung jawab tanpa trauma,
daripada disiplin tapi takut hidup.

Dan kalau sesekali ia lupa, lalu tertawa…
ya mungkin memang begitu cara generasi baru bernapas.

You May Also Like

0 komentar