Kenapa Jual Daster? Karena Gaji Saya Dulu Nggak Bisa Disamain Sama Bos

by - 12:00 PM

Pertanyaannya datang dengan wajah tulus, tapi nadanya seperti interogasi halus:

“Kenapa kok jualan daster?”

Saya jawab santai, tanpa metafora canggih, tanpa dalil langit:
“Dulu pas kerja, saya pernah nanya ke atasan: boleh nggak gaji kita disamain aja sama bos?”

Tetangga saya kaget.
Ekspresinya antara ingin ketawa, ingin marah, dan ingin memastikan: ini manusia waras atau otaknya geser dikit?

Saya paham kebingungannya.
Karena di dunia kerja, ada pertanyaan yang secara teknis boleh ditanyakan, tapi secara budaya tidak boleh terpikirkan.

Ia terdiam.
Lalu menepuk bahu saya.
Kami tertawa bersama.

Dan di situlah saya sadar:
ini bukan soal daster. Ini soal logika hidup yang akhirnya patah dengan jujur.


Sawang Sinawang, Pak

Tetangga saya berangkat pagi buta.
Pulang malam.
Menghabiskan hidup di antara klakson, target, dan deadline yang tidak pernah ikut lembur.

Saya?
Subuh live daster.
Antar anak sekolah.
Sarapan.
Live lagi.
Rutinitas yang bagi saya membosankan, tapi bagi dia terdengar seperti utopia.

Saya bilang ke dia:
“Sawang sinawang, pak.”

Hidup orang lain selalu terlihat lebih enak karena kita tidak ikut capeknya.

Dia melihat saya santai.
Saya melihat dia mapan.
Padahal, yang satu lelah badannya, yang satu lelah pikirannya.


Dulu Saya Juga Percaya Hidup Ideal

Saya pernah punya mimpi hidup utopis.
Apa-apa ada.
Bikin teh saja ada ART.

Lalu saya benar-benar punya ART.
Dan ternyata, dramanya lebih banyak daripada kerjanya.

Akhirnya saya sadar:
hidup ideal itu bukan yang paling banyak orang bantu,
tapi yang paling sedikit konflik batin setiap hari.

Maka saya putuskan:
urusan rumah ya dikerjain sebisanya.
Tidak heroik.
Tidak Instagramable.
Tapi waras.


Abang Saya Jual Balon, Saya Jual Daster

Keputusan jualan daster juga tidak datang dari seminar motivasi.
Ia datang dari melihat abang saya—abang ke-6—yang jualan balon karakter.

Satu balon: 15 ribu.
Tidak ada euforia.
Tidak ada jargon “financial freedom”.

Tapi:

  • rumah bisa dibangun,
  • anak tiga keurus,
  • ia hadir dalam pengasuhan.

Pernah ia dikatain goblok oleh pamannya.
Karena memilih tinggal di desa, bukan di kota.

Saya tertawa dan bilang ke dia:
“Di kota, pipis aja bayar, bang.
Belum kontrakan, air, makan, dan tek-tek bengeknya.”

Di kota, hidup memang kelihatan enak.
Kalau punya uang.
Kalau tidak, bisa mati konyol sambil tetap sok profesional.

Sekarang abang saya jadi petani sapi.
Bagi hasil dari ngarit.
Tidak keren di LinkedIn, tapi nyata di dapur.


Ibu Saya Tidak Pernah Tanya: Kerja Apa?

Ibu saya cuma tanya satu hal:
“Kerjamu halal?”

Tidak nanya jabatan.
Tidak nanya seragam.
Tidak nanya status sosial.

Dan itu pertanyaan paling membebaskan sekaligus paling menampar.


Logika Patah yang Jujur

Jual daster bukan tanda kalah.
Ia tanda berhenti berbohong pada diri sendiri.

Saya berhenti pura-pura kuat di sistem yang jelas tidak ingin saya setara.
Saya berhenti berharap gaji bisa disamain sama bos.
Saya berhenti hidup di mimpi orang lain.

Dan anehnya, justru setelah logika saya patah,
hidup terasa lebih lurus.

Tidak kaya raya.
Tidak miskin romantik.
Tapi hadir. Sadar. Bertanggung jawab.


Penutup (yang Tidak Bijak, Tapi Jujur)

Kalau hari ini kamu lelah dengan hidupmu,
jangan buru-buru iri pada hidup orang lain.

Bisa jadi:

  • kamu iri pada jam tidurnya,
  • tapi tidak siap kehilangan gengsimu.

Atau sebaliknya.

Sawang sinawang, pak.
Saya jual daster.
Anda jual waktu.

Dan dua-duanya sah,
asal jangan saling merasa paling benar.

😅

You May Also Like

0 komentar