Saya Lupa Nama Sendiri, Tapi Kru Masih Selamat
Saya anak terakhir dari tujuh bersaudara.
Di kampung, posisi ini punya keistimewaan sekaligus kemalasan struktural.
Tidak ada beban. Tidak ada ekspektasi besar. Tidak ada “kamu harus jadi ini”.
Hanya satu harapan sederhana yang diselipkan pelan-pelan:
ini anak terakhir, semoga ia jadi manusia yang tulus dan jernih.
Tidak pintar pun tidak apa-apa.
Tidak sukses pun tidak masalah.
Asal tidak licik dan tidak keruh.
Nama saya Ucu Sofyan.
Ucu itu bukan nama gagah.
Ucu itu nama dapur.
Nama yang dipanggil sambil nyuapin nasi, sambil nyuruh beli garam, sambil disuruh jangan main jauh-jauh.
Sofyan artinya jernih.
Dan jujur saja, ini harapan yang cukup berat… tapi juga membebaskan.
Karena jernih bukan berarti benar terus.
Jernih itu bisa salah, tapi tahu sedang salah.
Seiring waktu, saya sering lupa nama sendiri.
Bukan karena amnesia.
Tapi karena dunia memanggil saya dengan identitas yang lebih praktis.
“Ini ayahnya Naureen.”
“Oh, ayahnya Haidar ya.”
Dan saya merasa… sah-sah saja.
Nama pribadi pelan-pelan turun pangkat, tapi naik fungsi.
Kalau perlu memperkenalkan diri, saya pakai cara singkat:
Usopp.
Bukan kepanjangan akademis.
Bukan gelar.
Tapi akronim: Ucu Sofyan.
Kebetulan juga ada karakter di One Piece bernama Usopp.
Si pembohong.
Si penakut.
Si paling lemah secara fisik di antara kru bajak laut.
Dan justru itu yang saya hormati.
Usopp tidak kuat.
Tidak karismatik.
Tidak punya kekuatan dewa.
Tapi kalau kru terpojok,
kalau semua sudah buntu,
kalau Luffy terlalu nekat dan Zoro terlalu lurus,
Usopp muncul dengan akal bulusnya.
Dengan kebohongan yang tidak jahat.
Dengan cerita yang terdengar konyol, tapi sering… menyelamatkan.
Ia berbohong bukan untuk menguasai.
Ia berbohong untuk bertahan.
Untuk menunda kematian.
Untuk membuat situasi genting jadi sedikit lebih manusiawi.
Dan saya merasa dekat dengan itu.
Bukan pahlawan.
Bukan pemimpin.
Tapi orang yang kalau suasana terlalu tegang,
masih sempat nyeletuk,
masih sempat bikin orang ketawa,
masih sempat mengulur waktu supaya semua bisa bernapas.
Mungkin karena sejak kecil saya tidak dibebani jadi siapa-siapa.
Tidak dituntut jadi hebat.
Tidak diseret jadi simbol keluarga.
Saya tumbuh dengan satu tugas sunyi:
jangan jadi orang keruh.
Kalau dunia ribut, saya mundur selangkah.
Kalau orang marah-marah, saya cari celah untuk tertawa.
Kalau ada yang tinggal di “selokan”—entah hantu, entah manusia—saya masih sempat merasa kasihan.
Itu bukan kebajikan.
Itu kebiasaan anak bontot yang terlalu lama mengamati kakak-kakaknya bertengkar.
Hari ini, saya ayah.
Besok, mungkin hanya dikenang sebagai “orang yang dulu sering ketawa”.
Dan itu cukup.
Karena kalau suatu hari kru ini—keluarga, anak-anak, orang-orang di sekitar—selamat melewati hidup yang absurd ini,
saya tidak keberatan kalau caranya lewat kebohongan kecil yang lucu,
akal bulus yang tidak merugikan,
dan tawa yang datang di saat paling tidak tepat.
Lagipula,
tidak semua orang harus jadi Luffy.
Seseorang harus jadi Usopp.
0 komentar