Usopp Tidak Pernah Salah Tempat, Hanya Salah Panggung
Kadang menjadi Usopp itu capek.
Bukan capek fisik—itu sudah dari awal memang lemah.
Yang capek itu berpura-pura kuat di panggung yang tidak membutuhkan kekuatan, tapi intrik.
Lucunya, orang sering salah baca.
Karena tenang disangka siap memimpin.
Karena tidak rebutan disangka dewasa.
Karena bisa bicara ke semua orang disangka layak jadi kepala.
Maka datanglah tawaran absurd itu:
“Kamu aja jadi kepala dusun.”
Saya tertawa.
Bukan merendah, tapi jujur.
“Pak, saya tukang daster.”
Itu bukan candaan.
Itu kesadaran kelas dan energi.
Tidak semua yang bisa berdiri di depan harus duduk di kursi kuasa.
Di kampus, ceritanya lain.
Aneh memang.
Saya tidak ingin memimpin, malah sering diminta mewakili.
Simposium nasional.
Ketua lembaga.
Atau—kalau pun tidak—
dilempar ke divisi paling melelahkan: manusia.
Divisi organisasi.
Tempat berkumpulnya ego, luka lama, ide bengkok, dan pikiran sempit.
Dan di situlah Usopp bekerja.
Bukan dengan otot.
Tapi dengan menunda konflik, melunakkan bahasa, memutar sudut pandang, dan—kadang—berbohong kecil agar semua tidak saling bunuh.
Di pemerintahan, Usopp benar-benar diuji.
Motor bebek cicilan,
parkir di antara tunggangan puluhan juta.
Saya tidak minder.
Saya juga tidak bangga.
Saya cuma tahu: saya beda habitat.
Aneh tapi nyata,
justru si motor bebek ini yang sering diminta maju:
menerima tamu provinsi,
mewakili lembaga,
menyambut pejabat lintas pulau.
Bukan karena kuat.
Tapi karena tidak mengancam.
Tidak haus jabatan.
Tidak silau sorotan.
Usopp memang sering jadi anak emas—
karena ia tidak ingin emas itu sendiri.
Tapi bahkan Usopp punya batas.
Mariejoa bukan tempat untuk orang yang masih punya empati.
Di sana trik bukan lagi untuk menyelamatkan kru,
tapi untuk menjatuhkan kru lain sebelum dijatuhkan.
Dan di titik itu,
Usopp memilih pulang.
Bukan kalah.
Tapi selesai.
Sekarang Usopp ada di Desa Syrup.
Bukan sebagai legenda.
Bukan sebagai pejabat.
Tapi sebagai manusia yang tahu:
hidup tidak harus selalu heroik.
Jualan daster.
Menemani “nyonya bernama Kaya”.
Menertawakan kisah lama bersama Luffy—
yang dulu terasa seperti takdir,
sekarang terasa seperti fase.
Karena tidak semua orang ditakdirkan mati di medan perang.
Sebagian ditakdirkan pulang hidup-hidup.
Dan itu pun kemenangan.
0 komentar