Semua Ujaran Suci Ujung-ujungnya: Bangun Woy

by - 12:00 PM


Jujur saja, sejak saya bisa ngobrol, hidup saya penuh kalimat sakral.
Bukan sekadar nasihat, tapi kata-kata yang membuat ego menciut lalu duduk rapi.

Ayat-ayat Al-Qur’an.
Ujaran syeikh Arab.
Pepatah Sunda.
Petuah Jawa.
Filsafat Yunani.
Sampai cersil Kho Ping Ho yang penuh duel sambil mikir eksistensi.

Semua bikin saya takzim.
Semua bikin saya merasa kecil.
Semua bikin saya bilang dalam hati:
“Saya mah… apa atuh.” 😆


Lalu saya sadar sesuatu yang absurd tapi jujur.

Kalimat-kalimat itu, sejauh saya cerna, punya makna yang sama.

  • Man jadda wajada
  • Cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok
  • Bersungguh-sungguhlah kamu, niscaya berhasil

Kalau diterjemahkan ke bahasa dapur:

“Bangun woy. Jangan tidur mulu.”

😅

Tidak merendahkan.
Justru membumi.


Saya tumbuh dengan rasa kagum pada bahasa yang “naik satu tingkat”:

  • epifani
  • epos
  • prosa
  • metafora
  • simbol
  • makna terdalam

Setiap kali dengar istilah itu, saya:

  1. terdiam
  2. takjub
  3. merasa pintar sebentar
  4. lalu… ketawa lagi

Karena setelah semua lapisan bahasa itu dibuka,
pesannya tetap sederhana:

hidup dijalani
badan digerakkan
tanggung jawab dipikul
jangan kebanyakan ngelamun


Lucunya, semua ini sering kebawa ke live daster.

Saya bisa tiba-tiba ngomong filsafat
di tengah urusan domestik,
sambil nyetrika,
sambil packing pesanan,
sambil milih daster yang OOTD-able.

Dan rasanya… sah.

Karena di situlah saya menemukan epifani versi rumah tangga:

filsafat paling jujur lahir dari urusan remeh.


Saya tidak berhenti menghormati kata-kata sakral.
Saya tetap takzim.
Tetap hormat.
Tetap diam saat perlu.

Tapi sekarang saya tahu:

  • kagum itu boleh
  • takzim itu wajar
  • terpesona itu manusiawi

asal jangan lupa satu hal:

kata hanya kendaraan, bukan tujuan.

Dan kalau sudah terlalu tinggi terbang di langit istilah,
biasanya hidup akan menepuk pundak sambil bilang:

“Turun dulu. Ada cucian.” 😆


Jadi kalau saya duduk, terpukau oleh bahasa, lalu tiba-tiba tertawa sendiri, itu bukan karena saya meremehkan makna.

Itu karena saya sudah sampai di titik di mana saya bisa berkata:

“Oh… ternyata semua ini cuma cara berbeda untuk menyuruh saya hidup dengan benar.”

Dan setelah sadar itu…
ya sudah.

Saya bangun.
Saya kerja.
Saya pakai daster.
Saya tertawa.

Filsafat selesai.
Hidup lanjut. 😄

You May Also Like

0 komentar