Epifani, Anjir… Padahal Cuma Disuruh Masuk Rumah

by - 6:00 AM


Saya baru sadar satu hal yang agak memalukan tapi jujur:
saya mudah kagum oleh kata-kata.

Bukan karena bodoh.
Tapi karena kata memang punya kekuatan aneh:
ia bisa mengubah hal biasa jadi terasa agung,
dan hal sederhana jadi tampak sakral.

Contoh paling telanjang:

“Langit jingga di ufuk barat.”

Wah.
Pujangga.
Sastra.
Eksistensial.
Sunyi yang berbicara.

Padahal terjemahan kampungnya cuma satu kalimat:

“Masuk rumah woy. Magrib. Ada hantu.”

😅xw 


Di situlah saya tertawa.
Bukan menertawakan sastra.
Tapi menertawakan diri sendiri yang terlalu gampang terpesona oleh kemasan.

Karena kata itu seperti jampi:

  • diberi istilah asing → terasa pintar
  • diberi bahasa puitis → terasa dalam
  • diberi nama keren → terasa bermakna

Padahal isinya:

  • ya hidup
  • ya capek
  • ya mikir
  • ya bingung
  • ya ketawa
  • ya selesai

Saya menyebut momen sadar itu epifani.
Begitu nemu kata itu, kepala saya langsung:
anjir… ini perjalanan batin.

Padahal kalau tanpa istilah:

“Oh… ternyata saya cuma ngerti dikit lebih banyak dari kemarin.”

Biasa aja.
Tapi begitu dikasih nama, rasanya kayak naik level.

Dan lucunya:
saya sadar itu… lalu tertawa lagi.

Karena ternyata:

  • epifani pun bisa jadi ilusi kecil
  • eureka pun bisa cuma efek pencahayaan
  • kata bukan membuat makna, cuma memolesnya

Dari kecil saya dijejali bahasa simbol:

  • hati mengeras
  • suara hati
  • gelap karena maksiat
  • terang karena iman

Saya pahami semuanya literal.
Dan dihukum karena terlalu jujur memahami kata.

Sekarang saya paham maksudnya.
Tapi juga paham satu hal lain:

kata sering dipakai untuk menggantikan penjelasan yang malas.

Daripada bilang:

“Masuk rumah, istirahat, jaga diri.”

Lebih dramatis bilang:

“Langit jingga di ufuk barat, makhluk halus berkeliaran.”

Efektif.
Takut.
Anak nurut.
Selesai.


Epifani saya bukan soal menemukan kebenaran besar.
Tapi menyadari ini:

saya tidak bodoh dulu, saya cuma terlalu jujur pada kata.

Dan sekarang, saya tidak anti makna.
Saya cuma tidak mabuk oleh istilah.

Kalau ada kata indah, saya nikmati.
Kalau ada istilah keren, saya pakai.
Tapi kalau terlalu serius…

Saya terjemahkan ke bahasa kampung dulu.
Biar tahu ini puitis…
atau cuma disuruh pulang sebelum gelap. 🤣


Dan di situlah saya berdamai.
Bukan karena sudah sampai puncak.
Tapi karena tahu:

tidak semua hal harus diberi nama megah agar layak ditertawakan.

Kadang hidup cuma bilang:

“Udah, masuk rumah. Besok lanjut.”

Dan itu pun…
sudah cukup epifani hari ini. 😁

You May Also Like

0 komentar