Slow Living dari Daster: Ketika Hidup Membosankan Ternyata Iriable

by - 6:00 AM

Ada satu tetangga yang bilang hidup saya enak.

Katanya: tenang, santai, slow living.

Saya ketawa dalam hati.
Kalau dia tahu, pagi saya dimulai habis subuh live daster,
jeda antar anak sekolah,
pulang sarapan,
lalu live lagi
ritme yang bahkan bagi saya sendiri terasa… membosankan.

Tidak heroik.
Tidak ada drama “meeting penting”.
Tidak ada kopi mahal sambil buka laptop.
Yang ada: daster, sinyal, komentar random, dan pertanyaan klasik:
“Mbak ini LD berapa?”

Tapi di titik inilah saya belajar satu hal yang sangat Indonesia:
sawang sinawang, Pak.

Bagi saya, ini rutinitas datar.
Bagi tetangga saya—yang pagi buta harus membelah kemacetan ke kantor,
lalu malam hari membelah kemacetan lagi untuk pulang—
hidup saya adalah fantasi kebebasan.

Padahal kalau mau jujur,
kami sama-sama lelah.
Cuma jenis capeknya beda.


Keputusan saya berdagang daster tidak lahir dari seminar motivasi.
Ia lahir dari rasa salut pada abang ke-6 saya.

Ia jualan balon karakter.
Harga satu balon: 15 ribu.
Tidak ada euforia.
Tidak ada panggung inspirasi.
Tidak ada caption “from zero to hero”.

Tapi dari balon itulah:

  • rumah bisa dibangun,
  • tiga anak keurus,
  • dan yang paling langka: ia hadir dalam pengasuhan.

Ia pernah cerita, dengan getir tapi sudah ditertawakan:
pernah dikatain goblok oleh pamannya sendiri.
Saudara-saudara yang “lebih kota”,
lebih rapi bahasanya,
lebih tinggi gengsinya.

Saya tertawa dan bilang:
“Bang, kalau disuruh milih, saya malah pengin di desa.
Mencangkul, dagang balon juga nggak apa.”

Karena di kota—ini fakta pahit—
pipis aja bayar.
Apalagi kontrakan, air, makan, dan tek-tek bengek bernama hidup.

Di kota, semuanya memang terlihat enak.
Tapi itu kalau uang ada.
Kalau tidak?
Bisa mati konyol tanpa skill, tanpa waktu, tanpa napas.

Sekarang abang ke-6 saya ganti profesi.
Ia jadi petani sapi.
Bagi hasil dari ngarit.
Masih survival, iya.
Tapi tangannya kotor, hidupnya nyata.


Ibu saya tidak pernah bertanya:
“Kamu kerja apa?”

Pertanyaannya selalu satu:
“Kerja kamu halal?”

Pertanyaan sederhana,
tapi lebih tajam dari banyak ceramah.

Karena pada akhirnya,
hidup bukan soal terlihat naik kelas di mata orang lain,
tapi apakah kita benar-benar hadir dalam hidup kita sendiri.

Slow living saya mungkin membosankan.
Daster.
Live.
Anak sekolah.
Ulang lagi.

Tapi di kebosanan itulah,
saya tidak kehilangan waktu dengan anak,
tidak kehilangan badan karena stres,
dan tidak kehilangan akal sehat demi gengsi.

Dan di situlah saya paham:
hidup yang “biasa-biasa saja”
sering kali adalah hidup yang paling diinginkan
oleh mereka yang terlalu lama dipaksa berlari.

Sawang sinawang, Pak.
Saya iri pada jas rapi Anda.
Anda iri pada daster saya.

Padahal kita sama-sama sedang berjuang—
hanya beda kostum dan rute.

😄

You May Also Like

0 komentar