Anak Bertanya, Orang Dewasa Panik
Epilog ini lahir dari satu kesadaran sederhana:
sering kali anak tidak sedang menentang,
ia hanya mengambil kata orang dewasa secara harfiah.
Masalahnya, orang dewasa jarang siap menghadapi hasil dari kejujurannya sendiri.
Saya dulu anak yang percaya penuh.
Kalau dibilang A, ya A.
Kalau dibilang bahaya, berarti betul-betul bahaya.
Saya tidak punya niat menguji iman siapa pun—saya cuma ingin paham cara kerja dunia.
Maka pertanyaan-pertanyaan ini keluar begitu saja, tanpa niat jahat, tanpa agenda:
“Emang bener kalau kebanyakan tertawa bisa bikin hati mengeras?”
Di kepala saya, hati itu ya liver. Organ.
Kalau mengeras berarti kayak batu.
Logis, kan… kalau kita hidup di dunia tanpa metafora?
Orang dewasa panik.
Karena yang saya sentuh bukan organ, tapi simbol.
Dan simbol itu sakral. Tidak boleh ditanya.
Lalu ada lagi:
“Ikutin suara hati? Emang hati bisa mikir?”
Saya serius.
Kalau keputusan itu rasional, kenapa bukan suara otak?
Kalau emosional, kenapa bukan suara hormon?
Di titik ini, orang dewasa mulai curiga:
“Ini anak terlalu banyak mikir.”
Padahal saya cuma konsisten.
Lanjut naik level:
“Mikir pakai dengkul?”
Berarti otak saya dua dong.
Kanan dan kiri.
Kalau capek mikir, tinggal duduk jongkok?
Tawa kecil mulai muncul.
Bukan tawa senang—tawa canggung.
Karena metafora yang selama ini dipakai santai, tiba-tiba ditelanjangi sampai telanjang bulat.
Yang ini favorit saya:
“Kalau punya uang banyak bisa beli kebahagiaan, kenapa yang uangnya banyak malah kelihatan nggak tenang?”
Ada kucing lewat di atap, disangka maling.
Ada motor berhenti sebentar, langsung lapor satpam.
Saya tidak sinis.
Saya observatif.
Lalu pertanyaan kosmik ini:
“Katanya kita warga surga, terus ngapain sih berlomba pulang kampung?”
Dan yang lebih membingungkan:
kalau semua ingin surga,
kenapa sebagian orang justru sibuk menyiapkan koper ke arah sebaliknya?
Di sini, orang dewasa biasanya menghela napas panjang.
Karena jawaban jujur terlalu rumit,
dan jawaban sederhana terlalu berbahaya.
Pertanyaan terakhir adalah yang paling sunyi:
“Rasanya yang bisa bikin dunia gelap itu cuma satu: merem dan tidur.”
Bukan maksiat.
Bukan kebajikan.
Bukan debat panjang.
Tutup mata, selesai.
Di titik ini, biasanya orang dewasa berhenti merespons.
Bukan karena saya salah,
tapi karena jawaban mereka selama ini dibangun untuk orang dewasa, bukan untuk anak yang jujur berpikir.
Epilog ini bukan tentang siapa benar.
Anak tidak lebih suci.
Orang dewasa tidak lebih salah.
Kami hanya berdiri di keyakinan masing-masing,
tanpa kamus bersama.
Anak bertanya karena ingin mengerti.
Orang dewasa panik karena takut simbol runtuh.
Sekarang, setelah semua fase itu lewat, saya mengerti:
banyak pertanyaan anak bukan serangan,
melainkan audit ringan terhadap bahasa yang kita pakai sembarangan.
Dan kalau hari ini anak saya bertanya aneh,
saya tidak lagi buru-buru membenarkan.
Saya duduk.
Saya dengarkan.
Kadang saya jawab,
kadang saya tertawa,
dan kadang saya jujur bilang:
“Ayah juga belum tahu.”
Aneh ya,
ternyata iman tidak runtuh hanya karena satu anak bertanya.
Yang sering runtuh justru kesabaran orang dewasa 😅
0 komentar