Keluar dari Ruang Interogasi Batin, Tapi Masih Ditertawakan Karena Nanya Liver
Saya baru sadar, ternyata ada dua fase dalam hidup manusia.
Fase pertama: bertanya dengan polos.
Fase kedua: tertawa karena sudah paham kenapa dulu kita dipukul saat bertanya.
Saya melewati fase pertama dengan mulus.
Bahkan terlalu mulus.
Waktu kecil, saya sungguh-sungguh bertanya:
“Kalau kebanyakan tertawa bikin hati mengeras, berarti liver saya bisa jadi batu dong?”
Di kepala saya itu pertanyaan ilmiah.
Di kepala orang dewasa waktu itu, itu penistaan kosmik.
Rotan pun turun, paha jadi papan tulis moral, dan saya belajar satu hal penting:
bukan semua pertanyaan ingin dijawab, sebagian hanya ingin dihentikan.
Fast forward ke hari ini.
Saya ceritakan kisah itu ke istri.
Ia tertawa, lalu bilang dengan wajah heran tapi sayang:
“Ya ampun… kok bisa kepikiran gitu sih? Polos banget.”
Dan di situlah epifani kecil itu muncul.
Ternyata yang berubah bukan pertanyaannya.
Yang berubah adalah saya sudah keluar dari ruang interogasi batin.
Dulu, setiap pertanyaan terasa berbahaya.
Salah nanya → salah niat → salah iman → neraka waiting list.
Sekarang?
Pertanyaan cuma… pertanyaan.
Kadang bodoh.
Kadang lucu.
Kadang cuma hasil otak yang lagi ngelantur.
Dan tidak apa-apa.
Saya tidak lagi merasa perlu menginterogasi diri sendiri:
“Ini salah nggak?”
“Ini berdosa nggak?”
“Tuhan marah nggak?”
Saya tertawa.
Dan liver saya… Alhamdulillah masih empuk.
Yang lucu, istri saya tidak pernah hidup di fase itu.
Makanya ia bisa bilang, “nggak kepikiran nanya begitu,” dengan tenang.
Karena sejak awal, kepalanya tidak pernah dipenuhi alarm metafisik.
Saya iri sedikit.
Tapi juga bersyukur.
Karena justru dari fase absurd itu, saya belajar satu hal yang mahal:
ketika rasa takut hilang, humor muncul.
Dan sekarang, setiap kali ingat pertanyaan-pertanyaan polos itu,
saya tidak marah, tidak malu.
Saya cuma mikir:
“Oh… pantesan sekarang saya ketawa gampang.
Dulu ketawanya ditabung.”
Akhirnya keluar juga.
Bukan dari goa.
Tapi dari ruang interogasi batin.
Dan ternyata, dunia nggak runtuh.
Liver nggak jadi batu.
Tuhan juga nggak perlu dipanggil buat sidang klarifikasi.
Yang ada cuma satu reaksi paling manusiawi:
😅
“Anjir… dulu gue nanya begitu ya?”
0 komentar