Anak Saya Nyanyi Lagu Natal, Saya Masih Islam (Tenang, Ini Bukan Pengakuan Iman)

by - 6:00 AM

Kadang saya membayangkan:

kalau orang-orang di kampung saya tahu anak saya menonton kartun bernuansa natal dan ikut nyanyi, mungkin sidang darurat akan digelar.

Vonisnya sudah siap:
orang tua sekuler,
orang tua abai,
orang tua tidak paham medan iman.

Penghakimannya mungkin lebih kejam dari sinetron azab, hanya minus efek petir.

Padahal saya santai saja.
Bukan karena sok modern.
Bukan karena liberal garis keras.
Tapi karena saya bercermin ke hidup saya sendiri.

Saya berteman lintas agama sejak lama.
Makan bareng, ketawa bareng, saling datang ke acara keluarga.
Anehya, saya tidak pernah merasa ingin pindah agama.
Dan mereka pun tidak pernah tiba-tiba ingin jadi Islam hanya karena sering nongkrong dengan saya.

Iman ternyata tidak se-rentan itu.

Lagipula, kalau bicara teknis—Islam ini cukup ramah prosedur.
Kalau saya dicap murtad, solusinya simpel:
baca dua kalimat syahadat, selesai.
Reset factory.

Di Katolik?
Wah, itu beda cerita. Ada fase, ada proses, ada pengakuan.
Jadi secara logika administrasi saja, saya sudah malas pindah-pindah.

Karena kelonggaran itu, anak saya bebas bermain di komplek.
Ia main dengan siapa saja.
Ia tidak pernah membuka pertemanan dengan pertanyaan:

“Kamu agamanya apa?”

Kalau pun pertanyaan itu keluar, nadanya polos.
Biasanya bukan untuk menghakimi, tapi untuk navigasi sosial.

Misalnya begini:

“Oh kamu Kristen?
Oke, berarti aku nggak ngajak kamu sholat ya,
soalnya udah dzuhur.”

Saya ketawa waktu dengar itu.
Bukan karena lucu saja, tapi karena terasa sehat.

Ia tahu dirinya siapa.
Ia tahu orang lain berbeda.
Dan ia tahu batas tanpa perlu takut.

Saya tidak ingin anak saya tumbuh dengan iman yang tegang.
Yang tiap lagu dianggap ancaman.
Yang tiap simbol dianggap lubang neraka.

Saya ingin ia punya iman yang bernapas.
Yang bisa hidup berdampingan tanpa merasa terancam.

Kalau kelak ada yang menilai saya lalai, ya tidak apa-apa.
Saya tidak sedang membangun benteng.
Saya sedang menumbuhkan akar.

Dan sejauh ini,
anak saya masih Islam.
Masih ceria.
Masih nyanyi lagu natal.

Ternyata, semua itu bisa hidup dalam satu rumah—
tanpa ada yang runtuh.

You May Also Like

0 komentar