Tentang Tuhan, Saya Memilih Tenang Daripada Pintar
Jika suatu hari anak saya datang dan bertanya,
“Yah, kenapa ketuhanan di Kristen kok sulit dipahami secara logika?”
saya tahu satu hal dengan pasti: saya tidak akan menjelaskan apa-apa.
Bukan karena saya tidak punya pendapat.
Justru karena saya punya terlalu banyak.
Dan semua itu—kalau keluar—pasti bias.
Saya tahu betul, kalau saya menjelaskan dengan nada agresif, jujur saja, ketuhanan di Islam pun bisa terdengar sama tidak logisnya. Tuhan yang tiba-tiba ada. Tidak jelas dari mana. Tidak ada yang tahu kenapa Ia ada, untuk apa, dan mengapa dunia ini terasa seperti hasil kreativitas Tuhan yang sedang usil: ratusan galaksi, hukum fisika yang ribet, lalu saya terdampar di sebuah kota antah-berantah dengan drama harian yang kadang receh, kadang melelahkan.
Kalau dipikir-pikir terlalu jauh, kering.
Saya pernah berada di sana.
Di fase mempertanyakan Tuhan dengan serius.
Dengan logika penuh.
Dengan semangat membongkar.
Hasilnya?
Batin ribut.
Karena itu, jika anak saya bertanya, mungkin saya hanya akan berkata sederhana:
“Kita beribadah karena kita mau. Anggap saja itu cara supaya batin tenang. Soal Tuhan, biarlah Ia jadi tempat kita pulang.”
Tidak heroik.
Tidak filosofis.
Tapi jujur.
Saya tidak ingin mengajari anak saya tentang aqidah dengan cara yang membuat dada mengeras.
Saya tidak ingin ia memikul pertanyaan-pertanyaan metafisik yang bahkan orang dewasa sering menjawabnya dengan suara meninggi.
Jangankan menjelaskan ke anak.
Kalau saya sendiri kembali menguliti Tuhan dengan logika, rasanya saya akan kembali ke versi lama saya: alim tapi tegang, rajin tapi takut, patuh tapi penuh kecemasan.
Saya sudah melewati fase meragukan Tuhan.
Saya mengendapkannya.
Lalu berhenti bertanya hal-hal seperti:
“Kenapa Tuhan tiba-tiba ada?”
“Atau kenapa Ia iseng menciptakan galaksi, lalu membiarkan saya hidup dengan segala absurditasnya?”
Saya lelah mencari jawaban yang tidak pernah benar-benar memuaskan batin.
Sekarang, posisi saya sederhana:
Saya beribadah karena saya perlu.
Bukan karena saya paham.
Bukan karena saya takut.
Bukan karena ingin terlihat pintar.
Tentang Tuhan, saya tidak ingin unggul dalam debat.
Saya ingin tenang saat pulang.
Dan mungkin, itu saja yang perlu diwariskan ke anak saya:
bukan jawaban besar,
tapi ruang yang cukup aman
untuk bertanya—atau diam—tanpa ketakutan.
Karena pada akhirnya,
saya belajar satu hal yang terasa paling manusiawi:
Tuhan tidak selalu perlu dijelaskan.
Kadang, Ia hanya perlu dihadapi dengan tenang.
0 komentar