Anak Saya Tidak Sholat, Miss Memberi A-, Saya Ketawa Sendiri
Ada satu momen kecil yang membuat saya tertawa sendirian, bukan karena lucu semata, tapi karena hidup ternyata punya selera humor yang rapi.
Anak saya sekolah di sekolah Islam terpadu. Di sana, ibadah bukan hanya urusan langit, tapi juga administrasi. Ada satu benda sakral bernama Buku Agenda Siswa (BAS). Isinya sederhana: catatan sholat harian. Dzuhur jam berapa, Magrib sholat atau tidak, Subuh kesiangan atau bangun tepat waktu. Ringkas, jujur, dan—kalau saya tarik ke masa kecil—cukup untuk membuat mimpi buruk kosmik.
Di kepala saya, BAS versi masa kecil itu seperti kitab dakwaan. Kolom kosong berarti dosa. Dosa berarti hukuman. Hukuman berarti… ya, imajinasi anak kecil saya dulu terlalu kreatif. Cambuk api, neraka, suara gemuruh, Tuhan dengan alis berkerut membuka halaman demi halaman BAS saya. Saya sudah pesakitan sebelum sidang dimulai.
Nyatanya, BAS anak saya tidak seperti itu.
Miss di sekolahnya punya metode yang, jujur saja, membuat saya sempat curiga. Tidak ada marah. Tidak ada ancaman. Tidak ada “awas ya kalau bolong”. Yang ada hanya penilaian:
A untuk sholat lengkap.
A- kalau tertinggal satu waktu.
Dan… tidak diberi nilai kalau seharian tidak sholat.
Tidak ada tanda seru. Tidak ada catatan merah. Tidak ada hukuman kosmik.
Suatu hari, anak saya pulang. Saya lihat BAS-nya. Ada A-.
Saya tanya santai, “Hari ini kenapa A-?”
Dia jawab polos, “Tadi Magrib nggak sholat.”
Nada suaranya datar. Tidak bersalah. Tidak takut. Tidak drama.
Saya yang justru refleks menegakkan badan. Di kepala saya, alam semesta seharusnya berguncang.
Dan lebih lucunya lagi, ketika ada hari dia sakit dan tidak sholat sama sekali, saya menulis catatan di kolom orang tua: anak sakit, hari ini full tidak sholat.
Besoknya, tidak ada interogasi. Tidak ada penghakiman. Miss paham. Bahkan tanpa catatan itu pun, katanya.
Di titik itu saya sadar: yang ribut itu bukan BAS, bukan sekolah, bukan anak saya—yang ribut itu saya.
Saya dan anak saya akhirnya jadi partner. Bukan algojo dan terdakwa.
Saya tidak memaksa dia harus selalu A.
Saya cuma bilang, “Yuk sholat bareng ayah.”
Atau, “Ayah sudah sholat, kamu mau isi BAS sekarang atau nanti?”
Kadang berhasil. Kadang dia jawab, “Hari ini lagi nggak mau sholat.”
Kalimat itu, kalau keluar dari mulut saya di usia tujuh tahun dulu, mungkin saya sudah siap menerima hukuman lintas dimensi. Tapi dari mulut anak saya, kalimat itu terdengar… jujur. Manusiawi. Bahkan agak lucu.
Saya sempat siap mengeluarkan hukuman kosmik versi ayah—bukan pakai sapu, tapi pakai rasa bersalah warisan masa kecil. Lalu saya berhenti. Dan malah tertawa.
Saya tertawa karena sadar, saya dulu sholat karena takut.
Anak saya sedang belajar sholat tanpa takut.
Dan anehnya, dunia tetap baik-baik saja.
Dulu saya berpikir, iman harus dijaga dengan ancaman agar tidak bocor. Sekarang saya melihat: iman juga bisa tumbuh pelan-pelan, dengan jujur, tanpa teriak, tanpa neraka di tiap kolom kosong.
Anak saya belum paham konsep pahala, dosa, atau harmonisasi batin. Tapi ia sedang hidup di dalamnya, tanpa nama, tanpa definisi.
Dan saya—yang pernah menjadi pesakitan imajiner di hadapan Tuhan—akhirnya bisa menertawakan diri sendiri.
Ternyata, Tuhan tidak sedang membuka BAS.
Yang membuka, menutup, dan ribut sendiri… hanya saya.
Dan kali ini, saya memilih ketawa.
0 komentar