Doa Sudah, Basah Tetap Datang: Catatan Orang Beriman yang Kecipratan Motor
Saya pernah ada di fase hidup yang sederhana sekaligus padat:
apa pun masalahnya, jawabannya doa.
Bangun tidur ada doanya.
Masuk kamar mandi ada doanya.
Keluar rumah ada doanya.
Mimpi baik ada doanya.
Mimpi buruk juga ada—plus cadangan, siapa tahu mimpi itu niat jahat.
Dalam nafas Islam, berbahasa Arab, dengan intonasi yang diwariskan lintas generasi.
Saya menjalaninya. Sampai hari ini pun, tidak ada sinis, tidak ada benci.
Hanya… bergeser.
Kepala saya dulu seperti rak kitab berjalan.
Penuh rapalan.
Penuh urutan.
Penuh “kalau begini, baca ini”.
Ada doa saat menghadapi ular.
Ada doa saat bertemu pembesar.
Ada doa hendak ini, doa hendak itu.
Bahkan rasanya kalau nyenggol meja, tinggal cari: “Doa ketika jari kaki menghantam sudut lemari.”
Dan pola asuh yang saya terima dulu sangat jelas:
doa itu kewajiban mutlak.
Kalau jatuh:
“Tadi doa nggak?”
Kalau apes:
“Kurang doa itu.”
Kalau macet:
“Pantes, nggak baca doa keluar rumah.”
Kalau ujian salah:
“Doanya gimana?”
Seolah-olah doa adalah kartu asuransi all risk,
dan kalau klaim gagal, pasti karena salah isi formulir spiritual.
Lucunya, pola itu turun juga ke anak saya.
Ia berdoa sebelum berangkat sekolah.
Tertib. Khusyuk. Manis.
Lalu suatu hari…
BLAAASH.
Kecipratan air hujan dari motor yang ngebut di genangan.
Ia kaget. Basah. Sedikit bete.
Saya menatapnya, dan di kepala saya ada dua suara:
Suara lama:
“Kamu tadi doanya ikhlas nggak?”
Suara sekarang:
“Wah basah ya. Ayah juga sering gitu. Nanti di sekolah kering sendiri.”
Saya memilih suara kedua.
Dan rasanya… lega.
Bukan karena doa jadi tidak penting.
Tapi karena doa tidak lagi saya pakai sebagai alat menyalahkan keadaan
atau alat menginterogasi iman anak sendiri.
Hujan tetap hujan.
Motor tetap ngebut.
Genangan tetap genangan.
Doa tidak selalu berarti “hidup jadi mulus”.
Kadang doa hanya membuat kita cukup tenang untuk menerima bahwa hari ini memang basah.
Dan itu tidak apa-apa.
Anak saya tidak trauma.
Tidak merasa imannya kurang.
Tidak berpikir Tuhan sedang memberi nilai rapor.
Ia hanya belajar satu hal sederhana:
kadang hidup itu kejadian, bukan ujian.
Dan saya, orang tuanya, akhirnya belajar ulang:
Doa itu bukan remote control semesta.
Ia lebih mirip napas—
bukan untuk mengatur dunia,
tapi supaya kita tidak sesak saat dunia tidak sesuai rencana.
Basah tetap basah.
Tapi tidak perlu ditambah rasa bersalah.
Dan itu, bagi saya,
adalah doa yang paling masuk akal hari ini. 😄
0 komentar