Catatan Iman Seorang Mantan Pesakitan BAS

by - 6:00 AM

(atau: Tuhan Pernah Saya Bayangkan Pegang Cambuk dan Buku Absen)

Saya tumbuh di masa ketika iman itu tegang.
Bukan tegang karena khusyuk, tapi tegang karena takut.

Usia tujuh tahun, saya sudah tahu satu hal:
tidak sholat itu berbahaya.
Bukan sekadar dosa, tapi ancaman eksistensial.

Ancaman itu bentuknya bermacam-macam.
Mulai dari suara orang tua yang meninggi,
hingga sapu yang mendadak punya fungsi spiritual.
Ibadah bukan soal ingin atau paham,
tapi soal selamat atau tidak.

Saya sholat karena terpaksa.
Dan karena saya anak yang “serius belajar”,
semuanya saya terima bulat-bulat.
Kalau belajar matematika harus serius,
berarti belajar iman juga harus lebih serius lagi, kan?

Maka saya mulai bertanya.
Dan ragu.
Dan ragu yang lama.

Puluhan tahun saya habiskan dalam fase mencari Tuhan.
Saya baca, riset, menyerap kegelisahan orang-orang lain yang juga gelisah.
Ujung-ujungnya, saya menemukan tiga model manusia:

  1. Yang lari jadi ateis.

  2. Yang tetap ibadah tapi penuh pertentangan batin.

  3. Yang ibadah tanpa ribut di kepala.

Saya lama tinggal di nomor dua.
Capek.
Berisik.
Kering.

Sampai suatu hari saya menemukan posisi paling sederhana:
saya ibadah karena saya mau.

Bukan karena takut.
Bukan karena debat iman.
Bukan karena ingin terlihat benar.

Cukup karena mau.

Di titik itulah saya mulai bisa tertawa pada masa kecil saya sendiri.

Terutama ketika melihat anak saya sekarang.

Anak saya sekolah di sekolah Islam terpadu.
Ada sholat. Ada doa. Ada nafas Islam di setiap sudut.
Tapi metodenya… absurd dengan cara yang lucu.

Dia dibekali Buku Agenda Siswa (BAS).
Isinya catatan ibadah harian.
Hari ini sholat dzuhur jam berapa.
Hari ini magrib atau tidak.

BAS ini seperti pelatihan dini jadi malaikat Rakib Atid versi bocah.

Yang membuat saya tertawa keras:
anak saya jujur.
Kalau tidak sholat, kolomnya dibiarkan kosong.
Tidak ada rasa bersalah.
Tidak ada ketakutan kosmis.

Dulu, satu waktu sholat terlewat saja,
saya sudah membayangkan neraka dengan visual resolusi tinggi.

Sekarang, anak saya santai.
“Oh, hari ini belum sholat.”

Selesai.

Lalu saya membayangkan sesuatu yang lebih absurd.

Bagaimana kalau dulu saya juga dibekali BAS?

Saya bisa melihat adegannya jelas:
Tuhan duduk di meja.
Di tangan kiri: cambuk api.
Di tangan kanan: BAS lusuh.

Saya berdiri seperti pesakitan.

“Hari Selasa… Subuh kosong.”
api berderak

“Hari Rabu… Magrib lupa.”
Tuhan menghela napas,
seperti guru BP menghadapi murid langganan masalah.

Yang lucu, di BAS itu tidak ada kolom:
‘hari ini sholat tapi tidak paham apa-apa’
atau
‘hari ini takut setengah mati’.

BAS hitam-putih.
Ada atau tidak ada.

Dan mungkin di situlah letak masalah iman masa kecil saya:
terlalu administratif,
terlalu penuh ancaman,
terlalu miskin keheningan.

Sekarang saya paham,
fase tukar pendapat iman yang agresif dan defensif itu hanya fase.
Mencari Tuhan memang perlu,
tapi tidak harus ribut selamanya.

Bahkan jadi ateis pun,
kalau lewat proses man jadda wajada,
layak dihormati.
Yang berbahaya justru lompat kesimpulan tanpa mengendap.

Hari ini, saya tidak lagi tertarik debat iman.
Tujuan akhirnya sederhana:
batin yang tidak ribut.

Tentang Tuhan,
saya memilih tenang daripada pintar.

Dan kalau suatu hari anak saya bertanya hal-hal besar,
mungkin saya tidak akan menjelaskan apa-apa.
Cukup bilang:

“Ibadah itu kita lakukan karena kita mau.
Tuhan biarlah jadi tempat pulang,
bukan petugas absensi.”

Sisanya,
biarlah waktu yang mengendapkan.

Saya sudah cukup lama hidup sebagai
mantan pesakitan BAS.

You May Also Like

0 komentar