Anak Saya Tidak Sholat, Tidak Masuk Neraka, dan Saya Ketawa Sendiri
Ada satu hal yang belakangan membuat saya sering tertawa ke diri sendiri:
pola ibadah anak saya.
Waktu saya seusia dia—sekitar tujuh tahun—ibadah itu bukan urusan batin.
Ia urusan keselamatan.
Tidak sholat?
Siap-siap dicambuk.
Kalau bukan pakai kata-kata tajam, ya pakai sapu.
Intinya sama: takut.
Saya sholat waktu itu bukan karena mau.
Bukan karena paham.
Tapi karena terpaksa dan ngeri.
Sekarang giliran anak saya.
Ia sekolah di sekolah Islam terpadu.
Secara struktur, sama: sholat itu wajib.
Bedanya, metodenya bikin saya geli.
Anak saya dibekali Buku Agenda Siswa (BAS).
Isinya bukan ancaman, tapi kolom-kolom kecil.
Hari ini sholat Dzuhur jam berapa?
Hari ini sholat Magrib atau tidak?
Hari ini bangun tidur berdoa atau lupa?
Buku ini seperti versi ramah dari malaikat Raqib dan Atid—
malaikat pencatat amal edisi bocah SD.
Yang membuat saya terhibur:
anak saya jujur sekali.
Kalau dia tidak sholat, kolomnya dibiarkan kosong.
Tidak dicentang.
Tidak direkayasa.
Saya tanya,
“Kenapa nggak dicentang?”
Dia jawab santai,
“Kan aku nggak sholat.”
Tidak ada rasa bersalah.
Tidak ada ketakutan kosmik.
Tidak ada drama akhirat.
Di situlah saya tertawa keras.
Dulu, saya cuma membayangkan meninggalkan satu waktu sholat saja sudah gemetar.
Hukuman Tuhan terasa seperti trailer film horor.
Api, azab, siksa, dan segala efek suara menyeramkan.
Anak saya?
Ia meninggalkan sholat…
lalu lanjut makan, main, dan hidup seperti anak tujuh tahun normal.
Dan anehnya—atau mungkin justru sehatnya—
dia tetap baik.
Tetap jujur.
Tetap tahu bahwa sholat itu penting, tanpa harus takut setengah mati.
Saya tertawa bukan karena mengejek iman.
Saya tertawa karena melihat diri saya sendiri di masa lalu—
anak kecil yang terlalu dini dibebani ketakutan metafisik.
Sekarang saya sadar,
yang dulu berat itu bukan ibadahnya,
tapi cara menakut-nakutinya.
Anak saya belajar sholat.
Saya belajar menertawakan diri sendiri.
Dan untuk pertama kalinya,
ibadah terasa tidak menyeramkan—
bahkan bisa jadi bahan ketawa.
Mungkin begini seharusnya:
iman tumbuh pelan,
tanpa sapu,
tanpa cambuk,
tanpa teror neraka di usia tujuh tahun.
Kalau Tuhan Maha Besar,
saya yakin Dia tidak panik melihat satu kolom kosong di BAS anak saya.
Yang panik dulu,
ternyata saya.
0 komentar