Monumen Kecil Bernama: Mencari Tuhan
Ada fase dalam hidup saya yang, kalau dipikir ulang, rasanya seperti berjalan jauh tanpa peta.
Fase itu bernama: mencari Tuhan.
Ia tidak heroik.
Tidak pula penuh cahaya.
Lebih sering sepi, kering, dan melelahkan.
Saya masuk ke fase itu sejak kecil, sekitar usia tujuh tahun, ketika pelajaran aqidah datang dengan cara yang keras. Tuhan diperkenalkan bukan sebagai tempat pulang, tapi sebagai kekuatan yang harus dijaga jaraknya. Salah sedikit, ancamannya besar. Banyak teman saya tidak terlalu ambil peduli—mereka tertawa, mengangguk, lalu lupa.
Saya tidak.
Saya datang dari keluarga yang tidak berada. Bagi saya, belajar adalah satu dari sedikit jalan hidup yang terasa nyata. Maka apa pun yang diajarkan, saya ambil dengan serius. Kalau belajar matematika harus paham, maka belajar tentang Tuhan juga harus paham. Tidak boleh setengah-setengah.
Di situlah masalahnya dimulai.
Tuhan tidak bekerja seperti pelajaran sekolah.
Ia tidak tunduk pada rumus.
Tidak bisa diuji ulang di laboratorium.
Saya bertanya.
Saya meragukan.
Dan keraguan itu tidak singkat—ia menetap, bertahun-tahun.
Puluhan tahun kemudian, setelah saya menjalani prinsip man jadda wajada dalam hidup duniawi—berusaha, bekerja, jatuh, bangun, menemukan—saya sampai pada satu kesimpulan yang mengejutkan sekaligus membebaskan:
Saya tidak mampu menjelaskan Tuhan.
Bukan karena saya malas berpikir.
Justru karena saya sudah terlalu jauh berpikir.
Saya membaca banyak pemikiran, kegelisahan, dan pengalaman batin orang lain. Dari sana, saya melihat pola yang berulang, hampir selalu berakhir pada tiga jalan:
Pertama, mereka yang lari menjadi ateis.
Bukan karena benci Tuhan, tapi karena ingin jujur pada logika mereka sendiri.
Kedua, mereka yang tetap beribadah sambil berperang dengan batin.
Tubuhnya patuh, pikirannya gaduh.
Ketiga, mereka yang mampu beribadah tanpa keraguan.
Bukan karena semua pertanyaan terjawab, tapi karena posisi batinnya bergeser.
Saya sempat berada di jalan kedua. Lama.
Dan jujur saja, itu melelahkan.
Sampai akhirnya saya tiba di jalan ketiga—bukan dengan lompatan, tapi dengan pengendapan. Saya berhenti menuntut Tuhan untuk masuk ke kepala saya. Saya berhenti menjadikan iman sebagai arena debat.
Saya mulai beribadah bukan karena takut, bukan karena harus, tapi karena saya mau.
Di titik itu, batin saya tidak lagi ribut.
Saya tidak lagi merasa perlu menukar pendapat iman. Semua agresi dan defensif dalam urusan ketuhanan saya anggap sebagai fase. Bukan salah—hanya belum selesai.
Bahkan tentang ateisme, saya tidak lagi merasa perlu menolaknya mentah-mentah. Jika seseorang sudah benar-benar man jadda, sudah mencari dengan jujur, lalu sampai di ateisme—itu pun hasil perjalanan. Yang saya ragukan hanya satu: ateisme yang lahir dari lompatan, bukan pengendapan. Karena di sana, keributan biasanya hanya pindah bentuk.
Artikel ini saya tulis bukan untuk mengajarkan apa pun.
Ia hanya monumen kecil.
Penanda bahwa saya pernah mencari Tuhan dengan keras, lalu berhenti mengejar.
Sekarang, saya tidak sibuk menjelaskan Tuhan.
Saya hanya memastikan batin saya tidak berdarah.
Dan itu—ternyata—cukup.
0 komentar