Bangun-Bangun, Senyum Punya 40 Versi: Catatan Ashabul Kahfi yang Baru Buka WhatsApp

by - 6:00 PM


Saya merasa seperti pemuda Ashabul Kahfi.
Tidur sebentar.
Bangun-bangun, dunia berubah.

Dulu, waktu pertama kenal WhatsApp,
emosi manusia masih sederhana.

Senyum ya senyum.
😊

Selesai.

Tidak ada spektrum.
Tidak ada tafsir.
Tidak ada risiko sosial.

Sekarang saya buka keyboard…
dan merasa sedang memilih topeng emosi di toko topeng.

😀 😃 😄 😁 😆 😅 🤣 😂 🙂 🙃 😉 😊 😇
🥰 😍 🤩 😘 😗 ☺️ 😚 😙 🥲
😋 😛 😜 🤪 😝 🤑
🤗 🤭 🫢 🫣 🤫 🤔 🫡
🤐 🤨 😐 😑

Saya bengong.

Ini saya mau tertawa,
atau mau sidang skripsi emosi?

Karena ternyata:

  • 😄 beda niat dengan 😁
  • 😂 beda kelas dengan 🤣
  • 🙂 bisa dianggap sopan tapi dingin
  • 🙃 bisa dibaca sinis
  • 🥲 itu tertawa sambil menahan hidup
  • 😅 itu tawa penuh tanggung jawab
  • 🤪 itu lepas kontrol, jangan salah kirim ke grup RT

Sejak kecil saya diajari:

“Segala sesuatu di dunia ini ada maknanya.”

Saya tidak menyangka kalimat itu
akhirnya membuat saya berpikir keras hanya untuk tertawa.

Saya cuma mau bilang:

“Wkwk.”

Tapi sekarang saya harus mikir:

  • Ini grup keluarga atau teman?
  • Ada atasan nggak?
  • Ini bercanda atau bercanda serius?
  • Apakah tawa ini bisa disalahartikan?

Salah emot,
bisa dikira:

  • tidak tulus
  • terlalu berisik
  • meremehkan
  • atau sedang sarkas

Akhirnya saya menemukan jalan tengah: tidak pakai emot sama sekali.

Cukup:

  • hehe
  • hihi
  • haha

Tulisan polos.
Tanpa wajah.
Tanpa ekspresi.
Tanpa risiko.

Ironisnya, di era ekspresi visual tak terbatas,
saya justru kembali ke huruf.

Karena terlalu banyak pilihan
membuat saya lelah merasa.

Mungkin ini tanda usia.
Atau tanda bahwa manusia tidak diciptakan
untuk memilih di antara 30 jenis senyum.

Saya tutup keyboard.
Tarik napas.

Dah lah.
Males mikir. 😂
(Eh, ini pakai emot yang mana ya?)


Ditulis oleh Ashabul Kahfi modern
yang cuma tidur sebentar
lalu bangun di dunia
di mana senyum saja harus pakai tafsir.

You May Also Like

0 komentar