Ekstra (Versi Tidak Sopan Tapi Perlu): Ritual Sudah Penuh, Hidup Kosong
Ada fase manusia yang merasa sudah menekan semua tombol langit: doa sudah, wirid sudah, surat sudah, puasa sudah, sedekah sudah. Checklist ritual hijau semua. Lalu ia menoleh ke hidupnya yang berantakan dan bertanya dengan wajah polos:
“Kok rezeki belum datang?”
Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi soal iman. Tapi soal akal.
Karena kalau ritual langit sudah 100%, tapi hidup dijalani asal-asalan—kerja serampangan, tanggung jawab dihindari, keputusan diambil tanpa berpikir—lalu apa yang sebenarnya sedang diharapkan? Mukjizat? Transfer langit via notifikasi?
Al-Qur’an, dengan caranya yang tampak “kasar”, sebenarnya sedang menolak kebodohan yang dibungkus kesalehan. Maka muncul kalimat yang terdengar tidak sopan bagi telinga manja:
“Apakah kamu tidak berpikir?”
“Apakah kalian tidak berakal?”
Itu bukan hinaan. Itu alarm.
Karena khalifah bukan makhluk ritual murni. Khalifah itu makhluk yang mengelola, menimbang, memutuskan, dan menanggung akibat. Kalau semua diserahkan ke langit tapi bumi ditelantarkan, itu bukan tawakal—itu malas yang disucikan.
Lebih ironis lagi ketika kegagalan itu tidak diarahkan ke dalam, tapi ke luar: menyalahkan orang yang bekerja rapi, mencurigai mereka yang hidupnya tertata, lalu membangun narasi penghiburan: “Dunia sementara. Aku fokus akhirat.”
Padahal yang ditinggalkan bukan dunia, tapi tanggung jawab berpikir.
Rezeki dari arah yang tak disangka-sangka bukan hadiah untuk hidup sembarangan. Ia datang setelah ikhtiar dijalani dengan waras. Bukan sebelum, bukan sebagai pengganti.
Kalau tidak, kita hanya sedang melakukan ritual, lalu marah karena realitas tidak tunduk pada kemalasan kita sendiri.
Dan mungkin itulah sebabnya ayat-ayat itu tidak ditulis dengan bahasa lembut. Karena manusia yang keras kepala tidak dibangunkan dengan bisikan—ia dibangunkan dengan pertanyaan yang menusuk:
“Apakah kamu tidak menggunakan akalmu?”
0 komentar