Tentang Ayat, Payung, dan Orang yang Kehujanan
Saya sering membayangkan ayat itu seperti payung. Ia tidak diciptakan untuk menghentikan hujan, tapi untuk menemani kita berjalan di bawahnya. Masalahnya, ada yang membuka payung lalu duduk di tengah jalan, menunggu matahari terbit sambil menyalahkan hujan karena tak kunjung reda. Ketika melihat orang lain berjalan cepat, mencari atap, atau membangun selokan, ia berbisik sinis: “Terlalu duniawi.”
Padahal bisa jadi, orang yang berjalan itu justru sedang mengamalkan ayat dengan caranya sendiri—bergerak, berpikir, dan bertanggung jawab atas langkahnya. Dan bisa jadi pula, orang yang duduk rapi dengan payungnya itu bukan sedang bertawakal, tapi sedang menunda hidup sambil berharap langit berubah pikiran.
Di titik ini saya berhenti berdebat. Karena ayat tidak pernah bermasalah dengan kerja keras, dan kerja keras tidak pernah bermasalah dengan iman. Yang sering bermasalah justru manusia yang ingin hasil tanpa proses, lalu memanggil ayat sebagai saksi pembelaan. Seolah Tuhan harus menjelaskan ulang bahwa rezeki yang tak disangka-sangka bukan berarti hidup yang tak dijalani dengan sungguh-sungguh.
Maka kalau hari ini saya masih membaca ayat itu, saya membacanya dengan senyum kecil. Bukan sebagai jimat, bukan sebagai ancaman, tapi sebagai pengingat: setelah semua ikhtiar dilakukan dengan waras, tenanglah—kalau pun hasilnya datang dari arah yang tak kita duga, itu bonus. Bukan alasan untuk berjalan sembarangan, apalagi berhenti melangkah.
Dan mungkin di situlah letak keindahannya: ayat tetap di langit, hidup tetap di bumi, dan manusia belajar berdiri di tengah-tengah—tidak merasa paling suci, tidak pula merasa paling benar.
0 komentar