Min Haitsu Laa Yahtasib: Ketika Ritual Penuh, Tapi Rasionalitas Ditinggalkan

by - 12:00 PM

Dalam banyak diskursus keagamaan populer, frasa min haitsu laa yahtasib sering direduksi menjadi slogan metafisis: rezeki datang tanpa perlu dipahami prosesnya. Di titik inilah terjadi penyempitan makna yang problematik—bukan pada teks suci, melainkan pada cara manusia menggunakannya sebagai pembenaran atas kegagalan berpikir.

Fenomena yang muncul berulang: individu dengan latar belakang akademik atau spiritual tertentu merasa telah “selesai” pada wilayah ritual langit. Doa, wirid, bacaan, dan laku simbolik dijalankan secara disiplin. Namun pada saat yang sama, ritual bumi—kerja yang terukur, tanggung jawab sosial, pengelolaan waktu, konsistensi keputusan—dijalani secara serampangan. Ketika hasil tidak kunjung datang, bukan metode yang dievaluasi, melainkan realitas yang disalahkan.

Di sinilah bias kognitif bekerja dengan rapi.

Pertama, confirmation bias religius: setiap kegagalan ditafsirkan sebagai “ujian”, sementara setiap keberhasilan kecil dianggap sebagai validasi metode. Tidak ada ruang koreksi. Kedua, moral licensing: karena merasa sudah “taat”, individu merasa memiliki lisensi untuk abai pada disiplin duniawi. Ketiga, spiritual bypassing: problem praktis diselesaikan dengan jargon metafisis, bukan dengan perbaikan perilaku konkret.

Yang lebih problematik, sebagian dari mereka tidak berhenti pada delusi personal. Mereka naik satu tingkat: mengkapitalisasi kebingungan orang lain. Mulailah muncul model bisnis berbasis ketakutan dan harapan—kelas spiritual, kajian eksklusif, laku rahasia, paket doa premium. Narasinya konsisten: Anda miskin bukan karena sistem atau keputusan Anda, tapi karena ada amalan yang belum Anda bayar.

Ini bukan penyimpangan agama. Ini penyimpangan nalar.

Ironisnya, praktik semacam ini sering dibungkus legitimasi akademik atau gelar spiritual. Gelar menjadi ornamen, bukan alat berpikir. Ilmu tidak lagi berfungsi sebagai instrumen klarifikasi, melainkan sebagai alat dominasi simbolik. Bahasa dibuat tinggi agar tidak bisa dibantah. Ketika dikritik, kritik dianggap kurang iman.

Padahal, jika ditarik ke akar teologisnya, Al-Qur’an justru menempatkan akal sebagai syarat etis manusia. Pertanyaan-pertanyaan yang terdengar keras—apakah kamu tidak berpikir? apakah kamu tidak berakal?—bukan agresi moral, melainkan koreksi epistemik. Kitab suci tidak sedang menuntut manusia menjadi pasrah tanpa nalar, tetapi bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya.

Rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka bukanlah dispensasi dari sebab-akibat, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara niat, usaha, kompetensi, dan konteks. Ia tidak hadir untuk menggantikan kerja, melainkan sering muncul setelah kerja dijalani dengan benar—meski bentuknya tidak selalu sesuai ekspektasi.

Maka persoalannya bukan antara langit dan bumi. Persoalannya adalah ketika langit dijadikan alasan untuk meninggalkan bumi, dan spiritualitas dipakai sebagai dalih untuk berhenti berpikir.

Dan di titik itulah, kritik menjadi perlu. Bukan karena ingin merendahkan iman, tetapi karena iman yang menolak koreksi akal pada akhirnya berubah menjadi alat eksploitasi—baik terhadap diri sendiri, maupun terhadap orang lain.



You May Also Like

0 komentar