Kitab Suci Para Akun Anonim: Lele Terbang, Pocong Go Padel, dan Saya yang Memilih Tertawa

by - 12:00 AM

Saya sampai pada satu epifani yang tidak muncul dari kitab, ceramah, atau thread panjang penuh dalil.

Epifani itu muncul dari kolom komentar, live daster, dan akun bernama drakula sariawan yang ngetik pakai emosi sambil mungkin lagi nahan BAB.

Di situlah saya paham:
manusia di balik akun alter bukan sedang berdiskusi—mereka sedang bocor.

Bocor pikirannya.
Bocor perasaannya.
Bocor hidupnya.

Nama akun absurd itu bukan kebetulan.
Itu adalah baju badut darurat supaya mereka bisa teriak tanpa dikenali tetangga, atasan, pasangan, atau bayangan diri sendiri.

Dulu saya refleks:

  • ingin meluruskan
  • ingin menasehati
  • ingin “menyadarkan”

Sekarang saya cuma mikir:

“Oh… ini orang lagi cari ventilasi.”

Maka saya tidak lagi menghadapinya sebagai musuh argumen,
tapi sebagai panci presto tanpa katup.

Dan panci presto tidak perlu dikuliahi.
Ia perlu didesiskan.

Makanya saya balas:

  • kebingungan dengan kebingungan
  • satire dengan satire
  • absurditas dengan absurditas level neraka admin grup

Bukan karena saya jahat.
Tapi karena itu bahasa mereka.

Lucunya, setelah itu:

  • mereka tenang
  • saya tenang
  • tidak ada yang tercerahkan
  • tapi tidak ada yang meledak

Dan itu sudah cukup.

Epifani terbesarnya justru ini:

Manusia tidak selalu ingin dipahami.
Kadang mereka cuma ingin tidak sendirian dalam kebingungannya.

Akun alter bukan tanda kejahatan.
Sering kali itu tanda kelelahan yang belum punya kosakata.

Maka saya, Usopp sosial,
memilih jadi:

  • penonton yang tertawa
  • komentator yang usil
  • manusia yang tidak sok jadi nabi di kolom komentar

Karena setelah sekian lama mencari makna,
saya akhirnya damai dengan satu kesimpulan kecil tapi waras:

Tidak semua kegaduhan perlu diselesaikan.
Sebagian cukup dilepas… lalu ditertawakan bersama.

Dan kalau besok saya ketemu akun baru bernama
Ular Bersepatu, Jin Padel Syariah, atau Malaikat Pendingin Galon
saya tidak akan bertanya:
“apa maksudmu?”

Saya cuma akan berpikir pelan:

“Oke, silakan bocor. Dunia memang sempit, kolom komentar masih agak longgar.”

Lalu saya tutup HP.
Minum kopi.
Dan hidup lagi. 😌


You May Also Like

0 komentar