Epifani Datang Terlambat: Ternyata Tuhan Tidak Pernah Bicara Tentang Liver

by - 6:00 PM


Ada fase dalam hidup saya di mana dunia ini saya pahami secara literal.
Bukan karena saya bebal.
Tapi karena saya terlalu patuh.

Kalau orang dewasa bilang A, saya terima A apa adanya.
Tanpa metafora.
Tanpa simbol.
Tanpa footnote.

Dan dari situlah epifani-epifani datang… puluhan tahun terlambat.

Epifani Pertama:

“Jangan kebanyakan tertawa, nanti hati mengeras.”

Bertahun-tahun saya hidup dengan keyakinan ilmiah versi kampung:
tertawa → liver → mengeras → entah jadi apa.

Saya bahkan sempat berpikir:
oh… mungkin makanya orang dewasa jarang ketawa,
karena mereka menjaga tekstur organ dalam.

Epifani itu datang belakangan, pelan, sambil ngopi:
“Oh… maksudnya keras secara sikap, bukan keras kayak batu bata.”

Dan lucunya, begitu paham, saya malah tertawa.
Banyak.
Tanpa rasa bersalah.
Tanpa takut liver saya berubah jadi cobek.

Epifani Kedua:

Yaumul Hisab Bukan Nobar Kosmik

Waktu kecil, gambaran saya tentang hari perhitungan itu… sangat sinematik.
Semacam bioskop raksasa.

Semua dosa diputar.
Close-up.
Slow motion.
Resolusi tinggi.

Dan karena saya literal, otak saya bertanya:
“Kalau dosa kecil… apa ikut dizoom juga?”
“Iya termasuk itu?”
“Semua orang nonton?”

Epifani itu datang ketika dewasa:
“Oh… ini bukan tontonan. Ini perhitungan.”

Tidak ada layar.
Tidak ada penonton.
Tidak ada narrator voice yang menjelaskan kronologi.

Hanya kalkulasi.
Sunyi.
Personal.
Tidak dramatis seperti bayangan anak kecil yang terlalu sering nonton TVRI.

Dan anehnya, versi yang tidak dramatis itu justru terasa… lebih berat.
Lebih masuk akal.
Lebih manusia.

Epifani Ketiga:

Bahasa Orang Dewasa Sering Simbolik, Tapi Anak Tidak Dapat Manual Book

“Ikuti suara hati.”
Saya serius berpikir:
organ mana yang bersuara?

“Pakai dengkul dong mikirnya.”
Saya cek.
Dua.
Kanan kiri.
Berarti otak cadangan?

Epifani saya sederhana tapi menyakitkan:
anak-anak tidak pernah diberi kamus metafora,
tapi dihukum karena salah menerjemahkan.

Dan lucunya, tidak ada dendam di situ.
Hanya kebingungan panjang yang baru kelar sekarang.

Epifani Keempat:

Tuhan Tidak Pernah Marah Karena Pertanyaan, Manusia yang Panik

Ini epifani paling sunyi.

Semua hukuman, nada tinggi, jeweran, rotan,
ternyata bukan karena pertanyaannya berbahaya.

Tapi karena orang dewasa tidak punya jawaban,
dan lebih takut terlihat ragu daripada terlihat galak.

Begitu saya paham ini,
ruang interogasi batin itu perlahan mati.

Tidak ada lagi alarm kosmik setiap kali berpikir aneh.
Tidak ada lagi rasa bersalah karena tertawa.
Tidak ada lagi kebutuhan mengistighfari rasa ingin tahu.

Epifani Terakhir (yang Paling Usil):

Saya sadar…
saya tidak pernah menertawakan iman.

Saya hanya terlalu percaya pada kata-kata,
dan terlalu jujur saat memahaminya.

Dan hari ini, setelah semua epifani itu datang terlambat,
saya bisa bilang dengan tenang:

Spiritual yang membumi itu bukan soal rapalan yang sempurna,
tapi soal tidak menyakiti orang lain,
tidak menakuti anak dengan kosmik yang tidak perlu,
dan berani bilang:

“Belum tahu.”

Dan mungkin…
kalau dulu ada satu orang dewasa yang bilang begitu,
artikel ini tidak pernah ada.

Tapi ya sudahlah.
Epifani memang sering datang telat.
Untungnya, masih sempat ditertawakan. 🤣

You May Also Like

0 komentar