Manifesto Seorang Ayah yang Memilih Bakabon di Tengah Perang Besar Dunia Kartun
Saya ini ayah yang aneh.
Di saat orang dewasa lain debat teori,
menghitung power level,
atau bertaruh harga diri demi kartun masa kecil,
saya malah…
jatuh cinta pada Bakabon.
Kalau lagi mumet,
bukan One Piece yang saya putar ulang.
Bukan Naruto.
Bukan diskusi fandom dengan tabel dan grafik.
Saya pilih Bakabon.
Kartun yang logikanya sudah rusak sejak menit pertama,
dan dengan bangga tidak pernah berniat diperbaiki.
Anak saya menonton sebentar, lalu menatap saya lama.
Tatapan yang mengandung diagnosis:
“Ayah… otak ayah geser ya?” 🤣
Mungkin benar.
Atau mungkin justru ini tanda otak yang sudah selesai berkelahi.
Kalau anak saya maksa bertanya,
“Kenapa sih ayah suka Bakabon?”
Saya akan jawab dengan suara pelan tapi heroik, seperti pidato sebelum perang besar yang tidak perlu terjadi:
Jika ada seribu fandom Bakabon, ayah salah satunya.
Jika ada seratus fandom Bakabon, ayah salah satunya.
Jika hanya ada sepuluh fandom Bakabon, ayah salah satunya.
Jika hanya ada satu fans Bakabon di dunia ini…
bisa dipastikan itu ayah. 🤣
Bukan karena Bakabon paling pintar.
Bukan karena ceritanya paling rapi.
Tapi karena Bakabon tidak menuntut apa-apa.
Ia tidak meminta dibela.
Tidak meminta dianalisis.
Tidak meminta disakralkan.
Ia hanya bilang:
“Sudah, ketawa saja. Besok hidup lanjut.”
Dan mungkin,
di usia sebagai ayah,
di tengah dunia yang ribut,
itu jenis pahlawan yang paling saya butuhkan.
Bukan yang kuat.
Bukan yang jenius.
Tapi yang cukup bodoh untuk tetap waras.
—
0 komentar