Wirid Sudah Mak, Itu Anak Mau Sekolah, Buatin Sarapan
Dulu saya juga pernah rajin menulis dengan bahasa “lembaga hikmah”. Kalimatnya rapi, istilahnya tinggi, referensinya berjejer. Kalau dibaca sekilas, kelihatan alim, kelihatan berpikir. Tapi setelah sekian lama hidup dijalani, saya sadar: banyak tulisan keren itu gagal masuk dapur.
Di dapur, tidak ada istilah spiritual bypassing. Yang ada: anak mau sekolah, perutnya kosong.
Di dapur, tidak ada frasa min haitsu laa yahtasib. Yang ada: gas habis, telur tinggal satu.
Di titik itu, semua wirid yang sudah “mak” tiba-tiba butuh kaki.
Saya pernah menulis dengan nada cukup keras: menurut saya, muslim tidak boleh alergi dengan harta. Rasul itu bukan miskin, beliau hanya memilih hidup sederhana. Itu dua hal yang sering disatukan secara keliru. Sederhana adalah pilihan sadar; miskin sering kali hasil dari ketidaksiapan. Dan yang lebih menyedihkan, kemiskinan kadang dirawat dengan narasi suci agar tidak perlu diakui sebagai masalah.
Saya tulis juga: ayo umat Islam, jadilah kaya raya. Bukan demi flexing, tapi demi berhenti mengemis di jalan raya sambil bawa proposal mushola kecil. Yang setelah jadi, digembok, dikunci, dan kuncinya entah di mana. Hasil urunan jadi bangunan sunyi, sementara jamaahnya kembali ke rumah dengan kantong kosong dan perasaan “sudah beramal”.
Responsnya? Nyinyir, tentu saja.
“Wajar, dia datang dari bawah.”
Seolah-olah datang dari bawah itu dosa epistemologis. Seolah pengalaman hidup tidak sah bicara karena tidak lahir dari menara gading.
Padahal justru dari bawah itu saya belajar satu hal sederhana: iman tidak pernah diminta menggantikan tanggung jawab. Doa tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan kerja. Wirid tidak pernah dirancang untuk menunda sarapan anak.
Saya tidak berhenti berdoa. Saya tidak berhenti wirid. Tapi saya berhenti menjadikannya alibi.
Sekarang kalau melihat orang bingung, “kok rezeki belum datang ya, padahal amalan sudah full?”, kepala saya langsung menerjemahkan ke bahasa dapur:
amalanmu jalan, tapi hidupmu tidak diurus.
Bukan karena langit pelit, tapi karena bumi kamu tinggalkan.
Dan soal nyinyiran itu—ya sudahlah. Saya sudah terlalu sering mendengar kalimat semacam itu untuk merasa tersinggung. Datang dari bawah memang membuat saya memandang harta “sebegitunya”. Karena dari bawah saya tahu: harta itu bukan segalanya, tapi tanpanya, terlalu banyak hal sederhana jadi terasa berat.
Termasuk sarapan anak sebelum sekolah.
Kalau sekarang saya menulis lebih santai, lebih usil, itu bukan karena saya kehilangan iman. Tapi karena saya akhirnya paham: iman yang tidak bisa masuk dapur, terlalu mudah jadi bahan ceramah, dan terlalu jarang jadi solusi.
Dan di titik itu, saya tertawa.
Bukan menertawakan agama.
Tapi menertawakan diri sendiri yang dulu mengira langit bisa terus bekerja sendirian, sementara bumi dibiarkan berantakan.
0 komentar