Anak-Anak yang Waras, Dewasa yang Sibuk Mengelola Simbol
Saya menutup pengamatan receh ini di sebuah warung kecil, tempat ilmu sosial sering lahir tanpa seminar dan tanpa jurnal berbayar. Anak saya memanggil “tante” kepada seseorang yang, menurut standar biologis dan psikologisnya sendiri, merasa kata itu terlalu besar, terlalu tua, atau terlalu tidak cocok. Tawa tertahan muncul, profesionalitas bekerja, lalu setelah kami pergi, simbol-simbol sosial kembali dirapikan lewat candaan dan ejekan.
Di titik itu saya sadar: anak saya tidak salah menyapa, ia hanya belum rusak oleh simbol.
Bagi anak, bahasa adalah alat bertahan hidup sosial. Ia memanggil bukan untuk menempatkan, melainkan untuk menghubungkan. Dalam kacamata psikologi perkembangan—Piaget mungkin akan manggut pelan—anak masih hidup di tahap operasional konkret: yang penting relasi berjalan, transaksi selesai, dunia aman. Tidak ada kecemasan eksistensial dalam kata “tante”. Yang ada hanyalah fungsi.
Sebaliknya, orang dewasa hidup di dunia simbolik penuh. Kata bukan lagi alat, melainkan cermin. Sapaan berubah menjadi evaluasi diri: saya terlihat tua atau tidak, pantas atau tidak, naik kelas atau turun kelas. Pierre Bourdieu pernah menyebut ini sebagai habitus—kita membawa sejarah sosial kita sendiri ke setiap kata yang menyentuh tubuh. Maka wajar jika “tante” terasa berat bagi yang hidupnya bergulat dengan usia, kelas, dan citra diri.
Anak saya lolos dari semua itu. Ia memanggil tante, mbah, mamang, budhe, uwa, dengan ketenangan seekor makhluk sosial yang belum belajar malu secara berlebihan. Ia tidak tahu bahwa bahasa bisa melukai harga diri. Ia hanya tahu bahwa manusia perlu disapa agar dunia tetap bekerja.
Mungkin di situlah ironi kecilnya: yang paling waras dalam peristiwa itu justru yang paling kecil tubuhnya. Orang dewasa sibuk merapikan makna, anak sibuk menjalani relasi. Orang dewasa hidup dalam kecemasan simbolik, anak hidup dalam pragmatisme sosial yang sehat.
Saya pulang dengan senyum tipis, bukan karena merasa benar, tapi karena merasa tenang. Jika suatu hari anak saya harus belajar dunia simbolik—dan ia pasti akan belajar—setidaknya ia memulainya dari fondasi yang sederhana: menyapa tanpa niat menilai, berelasi tanpa ambisi mengklasifikasi.
Kalau itu dianggap naif, biarlah. Dalam dunia yang terlalu serius mengurus citra, mungkin sedikit kenaiifan justru tanda kewarasan.
0 komentar