Dari Saya yang Jujur ke Saya yang Sok Universal
Di titik tertentu, saya menyadari ada pergeseran halus tapi berisik:
dari “saya sebagai titik berangkat” menjadi “saya sebagai pusat”.
Awalnya niatnya sederhana. Jujur. Personal.
“Kalau saya, anak nggak saya kasih es krim.”
Bukan karena salah—tapi karena pengalaman saya: batuk, pilek, drama malam hari.
Masuk akal. Masih waras.
Lalu kalimat itu pelan-pelan berubah bentuk.
Bukan lagi cerita, tapi standar.
Bukan lagi pengalaman, tapi ukuran.
Ilmu sosial punya istilah yang agak kejam tapi akurat: moral projection.
Pengalaman pribadi yang awalnya kontekstual, tanpa sadar diproyeksikan sebagai kebenaran umum.
Bukan karena ingin menguasai, tapi karena otak manusia memang malas:
kalau sesuatu berhasil pada saya, kenapa repot-repot membayangkan kemungkinan lain?
Psikologi kognitif menyebutnya egocentric bias—
kecenderungan menganggap sudut pandang kita sebagai default dunia.
Bukan karena kita egois, tapi karena kita hidup dari dalam kepala sendiri.
Kita lupa bahwa “saya” itu jendela, bukan menara.
Makanya kalimat seperti:
“Kalau saya sih nggak mau dipoligami, seringnya nggak adil.”
itu sah. Manusiawi. Bahkan penting.
Masalahnya bukan di kalau saya,
tapi di momen ketika ia diam-diam bergeser menjadi:
“kalau orang waras, harusnya…”
Di situlah “saya” berubah dari titik berangkat menjadi pusat orbit.
Bukan lagi pengalaman yang ditawarkan,
tapi kesimpulan yang menuntut persetujuan.
Antropologi melihat ini sebagai proses normalisasi nilai.
Nilai pribadi yang terasa nyaman cenderung ingin diwariskan, disebarkan,
lalu—tanpa sadar—dibakukan.
Dari kebiasaan, jadi norma.
Dari norma, jadi moral.
Dari moral, jadi… penghakiman halus.
Ironisnya, niat awalnya justru waras.
Saya ingin jadi orang tua yang hadir.
Saya ingin parenting yang nggak ribet.
Saya ingin anak aman, empatik, bertanggung jawab.
Dan semua itu tetap valid—
selama saya ingat satu hal kecil tapi krusial:
pengalaman saya bukan pusat semesta.
Di titik ini, “saya sebagai titik berangkat” perlu satu rem darurat:
kesadaran bahwa cerita pribadi paling sehat
adalah yang berhenti sebelum berubah menjadi aturan hidup orang lain.
Epilognya sederhana—dan mungkin agak nyentil diri sendiri:
Pengalaman pribadi itu paling jujur saat ia diceritakan.
Dan paling berbahaya saat ia diam-diam ingin dijadikan patokan.
Saya masih belajar di sini.
Bukan untuk jadi paling benar—
tapi supaya “saya” tetap jadi cerita,
bukan mimbar. 😄
0 komentar