Mengapa Penceramah Jarang Bilang ‘Saya’: Catatan dari Menara Gading yang Tidak Pernah Ditinggali
Sejak kecil, saya akrab dengan satu pola yang terasa lintas agama dan lintas mimbar. Polanya rapi, nyaris steril. Selalu ada kisah orang ketiga.
“Dalam suatu riwayat, ada seorang yang tamak…”
“Pernah suatu ketika, ada manusia yang tergelincir oleh hawa nafsu…”
Lalu penutupnya selalu sama: mari kita mawas diri.
Yang menarik, yang dilempar selalu umat, bukan pengkhotbahnya.
Seolah tangan yang menunjuk ke luar itu milik sistem, bukan manusia.
Saya jarang—atau mungkin hampir tidak pernah—mendengar kalimat seperti ini:
“Menurut pengalaman saya…”
“Atas nama kejujuran, saya pernah punya dorongan ini…”
“Atas nama iman yang goyah, saya pernah hampir jatuh, dan inilah cara saya bertahan.”
Padahal, kalau kita bicara manusia, dorongan itu banal. Keinginan untuk berkuasa, untuk memiliki, untuk diakui, bahkan untuk punya istri muda—itu bukan dosa pikiran, itu fakta biologis dan sosial. Yang membuatnya menarik bukan ada atau tidaknya, tapi apa yang dilakukan setelahnya.
Namun di mimbar, pengalaman personal itu seperti sesuatu yang haram disentuh. Yang boleh naik hanya kisah orang lain—entah siapa, entah kapan—yang sudah disterilkan dari rasa malu, ragu, dan ambiguitas.
Di titik ini saya mulai curiga: jangan-jangan ini bukan soal moral, tapi arsitektur simbolik.
Dalam kacamata antropologi, penceramah bukan sekadar manusia yang berbicara. Ia adalah representasi nilai. Dan representasi, secara sosial, dituntut bersih. “Saya” terlalu rapuh. “Saya” punya celah. “Saya” bisa diserang. Maka yang dipilih adalah “mereka”, “seseorang”, “dalam suatu riwayat”.
Dengan cara itu, pengkhotbah naik satu lantai ke atas. Ia tidak lagi berdiri sejajar, tapi di atas pengalaman. Menara gading itu bukan dibangun untuk sombong, tapi untuk aman. Aman dari pertanyaan, aman dari keraguan, aman dari pengakuan bahwa ia juga manusia yang bergulat.
Secara psikologis, ini masuk akal. Pengakuan personal mengandung risiko. Begitu seseorang di mimbar berkata “saya pernah ingin…”, ia bukan hanya berbagi, tapi membuka diri untuk ditarik turun ke tanah. Dan mimbar, dalam struktur sosial, bukan tempat untuk turun—ia tempat untuk menjaga jarak.
Masalahnya, jarak ini mahal biayanya.
Ketika pengalaman selalu datang dari orang lain yang diabstraksikan, umat belajar satu hal: kebaikan adalah sesuatu yang datang dari luar diri, bukan hasil negosiasi batin. Kita diajari meniru, bukan memahami. Menahan diri karena takut dosa, bukan karena sadar efek domino.
Saya membayangkan betapa berbeda dampaknya jika suatu hari ada penceramah yang berkata begini: “Sebagai manusia, saya pernah ingin lebih dari yang saya punya. Tapi ketika saya ikuti, saya melihat dampaknya ke anak saya, ke pasangan saya, ke diri saya sendiri. Dan saya memilih berhenti, bukan karena saya suci, tapi karena saya lelah dengan kerusakan.”
Itu bukan melemahkan iman. Justru itu memanusiakan iman.
Namun sistem religius—seperti banyak sistem lain—lebih nyaman dengan keteladanan mitologis daripada kejujuran reflektif. Yang pertama rapi, yang kedua berisik. Yang pertama bisa diwariskan, yang kedua harus dialami ulang.
Maka umat pun dilempar menggunakan tangan orang lain. Dosa selalu milik “dia”. Godaan selalu milik “mereka”. Dan kita diminta mawas diri, tanpa pernah benar-benar melihat wajah manusia yang sedang bermuhasabah.
Di titik ini, sinisme saya mungkin muncul. Tapi bukan sinisme marah—lebih ke sinisme lelah. Saya tidak sedang menuntut pengkhotbah menjadi curhat publik. Saya hanya bertanya: di mana posisi “saya” dalam iman yang katanya hidup?
Mungkin jawabannya sederhana dan ironis:
“Iman terlalu sakral untuk disentuh ‘saya’.”
Padahal justru tanpa “saya”, iman sering berubah jadi poster motivasi—indah dilihat, sulit dijalani.
Dan mungkin, suatu hari, menara gading itu tidak runtuh. Ia hanya dituruni sebentar. Agar yang di bawah tahu: yang di atas pun manusia. 😄
0 komentar