Burung Kedasih, Sholawat 4.444 Kali, dan Bayi yang Tetap Harus Ditolong Dokter
(Catatan Orang Waras yang Masih Percaya Doa)
Saya termasuk orang yang masih bisa menertawakan mitos—selama mitos itu tidak menyuruh orang berhenti pakai otak.
Contohnya burung kedasih.
Di tanah Sunda, kedasih itu bukan sekadar burung. Ia carrier berita duka, semacam notifikasi alam versi burung. Begitu bunyinya terdengar, ibu saya refleks merapal:
“Ba’id, ba’id, ka sebrang, ka Palembang.”
Saya kecil tertawa. Bukan karena tidak sopan, tapi karena kasihan Palembang.
Kok tiap ada bala, Palembang jadi TPS kosmik.
Seolah-olah warga Palembang tiap pagi bangun sambil berkata,
“Ini bala dari Jawa Barat lagi, taruh di pojok ya.”
Mitos itu lucu. Aman. Tidak menyakiti siapa pun.
Dan yang paling penting: tidak mematikan ikhtiar.
Ketika Doa Disalahpahami Jadi Mesin ATM Langit
Yang mulai bikin saya geli—dan agak khawatir—adalah saat praktik ibadah berubah jadi ritual mekanis.
Misalnya:
“Baca sholawat nariyah 4.444 kali supaya rezeki lancar.”
Saya tidak menertawakan sholawatnya.
Saya menertawakan logikanya yang ditinggal keluar rumah.
Karena kalau cuma baca ribuan sholawat tanpa: paham HPP, ngerti margin, tahu biaya operasional, mau belajar pasar
itu bukan tawakal.
Itu menyerahkan laporan keuangan ke malaikat.
Saya percaya laku batin.
Tapi saya juga percaya laku bumi.
Kalau mau rezeki lancar:
- doa → pegangan batin
- usaha → kendaraan nyata
Kalau cuma satu, jalannya pincang.
Doa yang Salah Sasaran
Ada juga mitos yang niatnya baik tapi eksekusinya agak ngawur.
Saya terpeleset.
Komentarnya cepat:
“Tadi nggak doa pas keluar rumah ya?”
Doanya benar.
Tapi urusan terpeleset itu: lantai licin, sandal aus, pusat gravitasi kurang siap
Doa tidak mengubah hukum gesek.
Doa mengubah cara batin menerima kejadian.
Dan itu beda urusan.
Lalu Saya Sampai di Titik Rapuh
Sebentar lagi anak ketiga saya lahir.
Di titik ini, saya tidak sok rasional.
Saya tahu betul posisi saya rapuh.
Maka saya lakukan dua hal:
-
Ikhtiar bumi
- pilih rumah sakit
- pilih tenaga kesehatan yang waras
- sesuaikan dengan kemampuan finansial
Titik. Tidak pakai drama spiritual.
-
Pegangan batin
Saya hubungi saudara.
Saya minta doa.
Bukan karena saya pikir doa mereka menggeser tangan dokter.
Tapi karena batin saya butuh jaring pengaman emosional.
Secara logika murni,
mungkin tidak ada korelasi langsung antara doa tante di kampung dan lancarnya persalinan.
Tapi batin saya paham satu hal: Doa bukan alat intervensi medis. Doa adalah tempat bersandar jiwa.
Doa dan Rumah Sakit Bukan Saingan
Di kepala saya, ini sederhana:
- rumah sakit → kerja profesional
- nakes → ilmu dan pengalaman
- doa → ketenangan batin
Yang satu mengurus tubuh.
Yang satu mengurus jiwa.
Kalau hanya doa tanpa rumah sakit, itu nekat.
Kalau hanya rumah sakit tanpa ketenangan batin, itu capek.
Dan hidup—terutama kelahiran—
butuh dua-duanya.
Penutup
Saya masih tertawa pada mitos burung kedasih.
Masih geli pada ritual yang terlalu hitung-hitungan.
Masih kritis pada doa yang diperlakukan seperti tombol vending machine.
Tapi di saat paling rapuh,
saya tetap minta didoakan.
Bukan karena saya bodoh.
Justru karena saya tahu: manusia boleh rasional, tapi tetap butuh sandaran.
Dan doa, ketika ditempatkan dengan waras,
bukan pengganti usaha—
melainkan teman seperjalanan.
0 komentar