Jelma Mah Teu Angger Ku Nangtungna
Catatan Etnografi Receh Baraya Sunda yang Kebanyakan Mikir
Manusia itu, kalau kata orang Sunda, teu angger ku nangtungna. Tidak tetap pada satu posisi—bukan cuma berdiri secara fisik, tapi juga berdiri secara batin. Malam duduk, pagi gerak, siang random, sore pulang. Kalau dipaksa konsisten dari bangun sampai tidur, itu bukan manusia, itu kalender.
Catatan ini berangkat dari saya, orang biasa, di pagi hari, di antara mesin mobil yang dipanaskan dan anak yang menangis tanpa sebab yang bisa saya daftarkan ke dalam Excel. Tangisan itu tidak datang dengan proposal, tidak ada latar belakang masalah, tidak disertai PowerPoint. Ia hadir saja, lengkap dengan getaran emosi dan kemungkinan besar gula darah yang turun, atau kurang tidur, atau dunia yang terasa terlalu besar bagi tubuh kecilnya.
Saya tidak bertanya “kenapa kamu menangis?” karena pengalaman hidup mengajarkan: pertanyaan itu sering datang terlalu cepat untuk emosi yang belum sempat bernama. Saya hanya bertanya receh, “kamu mau nangis berapa lama?” Pertanyaan absurd, nyaris slapstick, seperti dialog Lampu Merah versi parenting. Tapi anak saya berpikir sejenak, lalu menjawab, “lima menit lagi.” Saya izinkan. Lima menit. Tangisan jadi punya batas, emosi diberi jeda, batin diberi pagar. Setelah lima menit, ia berhenti. Tidak dramatis. Tidak sakral. Manusiawi.
Di titik itu saya sadar, epifani sering datang bukan dari hal besar, tapi dari ketololan kecil yang tidak disengaja. Psikologi modern menyebut jeda semacam ini sebagai emotional regulation—kemampuan memberi jarak antara stimulus dan respons (Gross, 1998). Tapi di dapur rumah, ia hadir sebagai obrolan receh antara orang tua dan anak, tanpa istilah Latin, tanpa jurnal bereputasi.
Kalau ditarik ke belakang, masa kecil manusia memang impulsif. Bukan karena bodoh, tapi karena sistem sarafnya belum matang. Otak bagian depan, si pengatur rem dan etika, baru benar-benar berkembang penuh di usia dewasa muda (Casey, Jones & Hare, 2008). Maka wajar jika anak kecil menangis dulu, mikir belakangan. Yang konyol bukan mereka, tapi kita yang berharap stabilitas batin dari makhluk yang baru belajar mengikat tali sepatu.
Masuk usia dewasa, ada kecenderungan berubah. Bukan otomatis jadi bijak, tapi melandai. Erik Erikson (1950) menyebut hidup manusia sebagai rangkaian krisis psikososial, bukan garis lurus menuju pencerahan. Jejak kenakalan tidak menghilang, ia mengkristal. Ada orang yang tampak bijak tapi sesekali impulsifnya bocor. Ada yang tampak brutal tapi di usia senja memilih menyepi, bukan karena tercerahkan sepenuhnya, tapi karena lelah.
Saya teringat cerita silat Kho Ping Hoo. Seorang pendekar yang di masa muda bisa mencabut nyawa tanpa berkedip, di masa tua menepi di goa, jauh dari keramaian. Bisa jadi takut balas dendam, bisa jadi batinnya melandai. Kekerasan tidak lenyap, hanya berubah bentuk. Saat menerima murid, jejak keganasan itu masih muncul—kadang dalam disiplin keras, kadang dalam tatapan dingin. Ini selaras dengan apa yang disebut Pierre Bourdieu (1977) sebagai habitus: kebiasaan lama tidak hilang, hanya beradaptasi dengan konteks baru.
Antropologi sejak lama mengingatkan bahwa manusia bukan makhluk yang konsisten, tapi situasional. Clifford Geertz (1973) menyebut manusia sebagai hewan yang terjebak dalam jaring makna yang ia tenun sendiri. Pagi ia rasional, siang ia emosional, sore ia pasrah. Tidak ada kontradiksi, hanya pergantian peran.
Masalah muncul ketika kita membaca hidup secara terlalu literal. Tangisan dianggap kelemahan, impuls dianggap cacat, perubahan dianggap inkonsistensi. Dari situlah sinisme lahir. Padahal jika dibongkar, seperti bangunan atau proses persalinan, semua terlihat biasa. Tidak banal, tapi cukup untuk membuat kita waras tanpa harus mengglorifikasi atau mencemooh.
Stoikisme anak-anak lain yang “yaudah” itu memang menggiurkan. Baca cerita, yaudah. Lihat bangunan, yaudah. Ada kehamilan, yaudah. Tapi di balik “yaudah” itu sering tersembunyi satu hal: mereka belum kepikiran, bukan karena lebih kuat, tapi karena belum sampai di tikungan itu. Dan itu tidak apa-apa.
Catatan receh ini bukan ajakan untuk terus mikir, tapi izin untuk tertawa pada diri sendiri. Bahwa batin manusia memang tidak tetap. Bahwa pagi bisa impulsif, siang reflektif, sore ingin pulang cepat. Bahwa memberi anak waktu lima menit untuk menangis mungkin lebih antropologis daripada seribu nasihat.
Dan mungkin, di situlah fungsi ilmu receh: bukan untuk merasa lebih pintar, tapi supaya obrolan di sela manasin mobil tetap hangat, dan hidup tidak terasa terlalu serius untuk makhluk yang pada dasarnya… teu angger ku nangtungna
0 komentar