Surga yang Direduksi: Catatan Lapangan dari Warung Tahlil, Mimbar Jumatan, dan Imajinasi 72 Bidadari

by - 6:00 PM


Saya bukan antropolog. Tapi seperti banyak orang Indonesia lain, saya hidup cukup lama di lapangan—di rumah duka, di forum WhatsApp keluarga, di mimbar Jumat, dan di kolom komentar media sosial. Dari sana saya belajar satu hal: agama jarang hancur karena musuh dari luar. Ia lebih sering direduksi oleh pemeluknya sendiri.

Salah satu reduksi paling efektif dalam sejarah manusia adalah surga. Sesuatu yang metafisik, luas, dan seharusnya membuat manusia lebih beradab, dipersempit menjadi motor penggerak perilaku: berbuat baik demi imbalan. Lebih sempit lagi, surga direduksi menjadi imajinasi sensual—72 bidadari—yang entah sejak kapan menjadi ikon utama ketaatan.

Dalam versi ekstremnya, reduksi ini bahkan sanggup menghancurkan kemanusiaan. Ada orang-orang yang meledakkan dirinya sendiri, menyebut kematian itu sebagai “menjadi pengantin”, seolah surga adalah resepsi kosmik dengan hadiah biologis. Ironisnya, semakin literal surga dibayangkan, semakin metaforis nyawa manusia lain dianggap.

Padahal jika kita menengok sejarah awal Islam, gambarnya jauh lebih kompleks dan jauh lebih manusiawi.

Islam pertama kali hadir di Jazirah Arab bukan di ruang hampa budaya. Ia masuk ke masyarakat dengan tradisi, struktur sosial, dan kebiasaan yang sudah ada. Yang dilakukan Nabi bukan menghapus segalanya, tapi mengasimilasi, mengoreksi, dan menggeser orientasi. Budaya memadu, misalnya, tidak serta-merta dihapus, tetapi diberi batas etik yang sangat ketat—dan konteksnya pun jelas: janda, korban perang, tanggung jawab sosial. Bukan seleksi biologis atas nama nafsu, apalagi fetish spiritual.

Bandingkan dengan praktik hari ini. Di Indonesia, poligami sering direduksi menjadi menikahi yang lebih muda, lebih “segar”, dan dibungkus dalil. Dari tanggung jawab sosial menjadi privilese maskulin. Dari etika menjadi ego. Reduksi bekerja dengan rapi.

Hal serupa terjadi pada ritual. Di Arab tidak ada tahlilan. Itu benar. Tapi fakta ini sering diperlakukan seolah-olah cukup untuk menghentikan percakapan. Seakan lupa bahwa Islam di Arab sendiri adalah hasil asimilasi pada masanya. Maka sangat mungkin—dan sangat masuk akal—jika Islam di Jawa menyebar dengan pola serupa: bernegosiasi dengan budaya lokal, bukan memusnahkannya.

Masalah muncul ketika asimilasi itu kemudian direduksi lagi menjadi tuduhan: bid’ah. Setiap bid’ah sesat. Setiap kesesatan di neraka. Kalimat ini terdengar tegas, rapi, dan menenangkan bagi mereka yang tidak ingin berpikir terlalu jauh. Padahal, banyak ulama—dan banyak tesis akademik yang jarang dibaca—sudah lama membedakan antara syariat dan fikih. Antara ideologi baku dan rumusan manusia yang kontekstual.

Syariat, mungkin, memang tidak untuk dikoreksi. Tapi fikih? Ia lahir dari manusia, untuk manusia, di zaman tertentu. Ketika semua yang bersentuhan dengan agama diperlakukan seolah-olah setara dengan wahyu, di situlah ekstremisme menemukan rumahnya.

Di lapisan bawah masyarakat, perdebatan ini jarang berbentuk diskusi ilmiah. Ia hadir sebagai gelut: “Ini nggak ada di zaman Nabi.” Selesai. Sambil mengenakan jubah ala Arab, menunjuk-nunjuk, dan berkata, “Islam yang benar adalah kami. Kami memurnikan.”

Pemurnian macam ini menarik. Ia memurnikan simbol, tapi sering mengabaikan substansi. Ia serius pada pakaian, tapi santai pada empati. Ia galak pada tahlil, tapi dingin pada korban perang, kemiskinan, dan ketidakadilan—hal-hal yang justru menjadi denyut etika Islam awal.

Mungkin karena itu Rasul pernah berkata, “Kalian lebih tahu urusan dunia kalian.” Sebuah kalimat yang sederhana, tapi berbahaya bagi mereka yang ingin semua jawaban final, beku, dan seragam.

Tulisan ini tidak bermaksud membela tahlil, atau menyerang yang menolak. Ini hanya catatan lapangan kecil tentang bagaimana surga, tradisi, dan ajaran bisa direduksi menjadi slogan—lalu digunakan untuk menghakimi, bahkan membunuh.

Jika surga benar-benar ada, mungkin ia tidak sesempit itu. Dan jika agama benar-benar turun untuk manusia, mungkin ia tidak pernah dimaksudkan untuk menghapus kemanusiaan demi tiket masuk ke sana.


You May Also Like

0 komentar