Khitan, Ingatan, dan Masjid: Catatan Antropologi Receh dari Seorang Anak Desa yang Kaget ke Kota
Saya baru sadar ada culture shock yang halus tapi nyata ketika mendengar cerita khitan anak di kota.
Di sana, khitan dilakukan saat anak sudah SD ke SMP. Sudah bisa mikir, bisa diajak dialog, bisa ditanya: siap atau belum?
Di desa saya, itu terdengar… terlambat.
Di tempat saya tumbuh, khitan dilakukan saat anak masih balita. Umur-umur belum bisa protes dengan kalimat lengkap, belum bisa negosiasi, belum sempat googling “khitan itu apa dan kenapa menyakitkan”. Bahkan mungkin belum sadar betul bagian tubuhnya pernah punya versi lain.
Waktu itu saya tidak pernah merasa “diputuskan tanpa persetujuan”. Karena jujur saja: saya belum punya konsep persetujuan. Yang ada hanya satu hal yang jelas—setelah itu, saya boleh ikut ke masjid.
Di desa, ada larangan tak tertulis: anak yang belum dikhitan belum boleh masuk masjid.
Bukan karena najis, bukan karena dosa. Itu simbolik. Semacam pagar sosial agar anak mau dikhitan, dan orang tua segera mengurusnya.
Kalau dilihat dari kacamata kota hari ini, aturan itu bisa dianggap problematik. Tapi dalam logika desa, itu sangat praktis. Masjid adalah pusat hidup: shalat, ngaji, kumpul, kadang tidur siang. Tidak boleh masuk masjid artinya tertinggal dari kehidupan sosial. Maka khitan bukan sekadar ritual agama, tapi tiket masuk komunitas.
Orang tua di desa jarang bicara soal kesiapan mental anak. Yang dipikirkan sederhana: aman dulu. Aman secara agama, aman secara sosial. Urusan makna? Nanti juga nyusul. Anak akan belajar sendiri, seiring waktu, seiring tubuhnya tumbuh, seiring pertanyaan muncul.
Sebaliknya, orang tua kota punya alasan yang juga masuk akal. Mereka ingin anaknya paham, siap mental, tidak trauma. Ada dialog, ada penjelasan, ada kesadaran. Dalam bahasa psikologi modern, ini soal agency dan consent. Anak diajak sebagai subjek, bukan objek.
Dua pendekatan ini sering diposisikan seolah berlawanan:
yang satu dianggap kuno dan otoriter,
yang lain dianggap modern dan manusiawi.
Padahal kalau dibaca dengan kacamata antropologi, ini bukan soal benar-salah, tapi soal konteks sosial yang berbeda.
Antropolog seperti Clifford Geertz sudah lama mengingatkan bahwa praktik keagamaan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu menempel pada struktur sosial, simbol, dan kebutuhan komunitas. Khitan di desa dan khitan di kota sama-sama ritual tubuh, tapi maknanya dikonstruksi oleh lingkungan yang berbeda.
Di desa, yang penting adalah integrasi sosial: anak cepat masuk ritme kolektif.
Di kota, yang penting adalah refleksi individual: anak diajak memahami dirinya sendiri.
Saya pribadi berdiri di tengah-tengah, sambil senyum kecil.
Karena faktanya, saya tidak pernah trauma karena dikhitan balita. Saya juga tidak punya ingatan heroik soal “kejantanan diuji”. Bahkan kadang lupa bahwa dulu ada fase tubuh yang tidak saya kenal.
Tapi saya juga paham, generasi sekarang hidup di dunia yang berbeda. Dunia yang lebih cerewet, lebih sadar hak, lebih penuh dialog. Mungkin pendekatan kota lebih relevan untuk konteks itu.
Akhirnya saya sampai pada kesimpulan receh tapi menenangkan:
khitan bukan cuma soal usia, tapi soal cara masyarakat mendidik makna.
Ada yang memilih makna datang belakangan.
Ada yang memilih makna dijelaskan di awal.
Dua-duanya sedang berusaha membesarkan anak dengan versi kewarasan masing-masing.
Dan mungkin, antropologi terbaik memang lahir bukan dari buku tebal, tapi dari rasa kaget kecil saat menyadari:
oh, ternyata hidup orang lain ritmenya beda, ya.
0 komentar