Persib, Persija, dan Etika Julid Receh: Antropologi Rivalitas Bola Lokal
Saya duduk santai di sofa, menonton pertandingan Persib Bandung, sambil sesekali menulis catatan. Alasannya sederhana: saya Sunda, dan saya suka klub yang murni—hidup dan matinya Persib hanya ditentukan oleh profesionalisme manajemen, bukan oleh siapa yang duduk di kantor pemerintah daerah. Tidak ada intervensi, tidak ada jalur APBD, hanya sepakbola dan bobotoh yang mendukung dengan cinta atau kecewa sesuai hasil di lapangan.
Lalu ada Persija. Bukan berarti saya membenci, tapi sebagai bobotoh, kami dibentuk oleh sejarah rivalitas turun-temurun. Tradisi permusuhan ini—sebagaimana dikaji oleh Giulianotti (2002) dalam antropologi olahraga—bukan soal individu, tapi simbol identitas regional, loyalitas, dan representasi politik lokal. Menyebut Persija “klub yang diintervensi pemerintah” bagi kami bukan hinaan personal, tapi catatan profesionalisme: hidupnya klub tidak sepenuhnya ditentukan oleh manajemen internal, melainkan oleh campur tangan birokrasi dan politik.
Setiap kali ada narasi media: gubernur Jakarta memberi alokasi APBD untuk Persija, atau menggunakan jalur voting untuk mendukung klub, bagi kami bobotoh, ini hanyalah bukti objektif. Profesionalisme diuji, bukan loyalitas fans—meski tentu saja, fans paling kreatif selalu menemukan cara julid receh di media sosial. Kami bisa tertawa sinis, bikin meme, atau bercanda soal “klub yang diatur birokrat”, tapi semuanya berhenti di ranah simbolik, bukan menyerang pemain atau manajer secara personal.
Dari perspektif akademik, fenomena ini adalah contoh klasik rivalitas tribal modern. Kitley (2010) menekankan, suporter olahraga lokal sering membangun identitas kolektif melalui simbol dan narasi—bukan karena membenci individu di klub lawan, tapi karena mempertahankan rasa memiliki atas kelompoknya sendiri. Jadi, julid kami bersifat ritual sosial: aman, lucu, dan membangun solidaritas internal bobotoh tanpa harus merusak hubungan sosial di luar stadion.
Di sofa saya, sambil menyesap kopi, saya tersenyum. Rivalitas bola lokal ternyata bisa menjadi laboratorium antropologi receh. Persib vs Persija bukan soal permusuhan, melainkan soal memahami simbol, tradisi, dan profesionalisme—dengan sentuhan julid yang legal dan etis. Di lapangan, mereka bermain; di luar lapangan, kami belajar menertawakan diri sendiri dan rivalitasnya.
0 komentar