Antropologi Parenting Receh: Trauma Banci & Terapi Ala TED Talk
Ada satu fase parenting yang jarang dibahas di buku-buku mahal bercover matte: fase parenting receh. Bukan soal gizi seimbang atau stimulasi motorik halus, tapi soal bagaimana orang tua bertahan hidup dari kejadian-kejadian absurd sehari-hari—dan tetap merasa waras.
Saya pernah tinggal di lingkungan yang lalu lintas manusianya seperti siaran televisi tanpa sensor. Orang keluar masuk, pengamen datang silih berganti. Kadang ondel-ondel, kadang topeng monyet, kadang pengamen dengan musik yang seolah bertengkar dengan lagunya sendiri. Anak saya menikmati sebagian besar itu sebagai hiburan spontan. Ia tertawa, kaget, lalu tertawa lagi. Dunia baginya masih arena bermain yang gaduh tapi aman.
Sampai suatu hari muncul figur yang tidak punya folder di kepala anak-anak: gadis centil dengan tubuh maskulin. Perawakannya kekar, ekspresinya genit, kehadirannya mencolok. Anak-anak di komplek spontan lari. Anak saya ikut lari, bukan sambil menangis, tapi sambil bingung. Ini bukan takut yang matang, ini error handling. Otak kecil sedang mencari kategori, tidak ketemu, lalu memilih opsi paling cepat: menjauh.
Yang membuat momen itu menjadi "klik" bukan peristiwanya, tapi narasi orang dewasa di sekitarnya. Seorang emak menjadikannya depresan instan: ancaman sosial yang murah dan efektif. "Nggak mandi, nanti dibawa banci." Kalimat pendek, efek panjang. Anak-anak belajar bahwa rasa takut bisa ditempelkan ke sosok tertentu, bukan karena pengalaman langsung, tapi karena otoritas orang dewasa mengizinkannya.
Di sinilah antropologi parenting receh bekerja. Anak tidak mewarisi ketakutan secara alami; ketakutan itu diajarkan, sering kali tanpa sadar. Kita menyebutnya pendidikan nilai, padahal kadang itu hanya cara cepat menghentikan anak tanpa energi ekstra.
Waktu berjalan, kami pindah ke cluster. Lingkungannya tenang. Tiis ceuli, herang panon—kata orang Sunda. Tidak ada tambur dadakan, tidak ada ondel-ondel lewat jam tidur siang, tidak ada figur-figur sosial yang terlalu kompleks untuk kepala usia dini. Anak saya lebih tenang. Bukan karena dunia menjadi lebih benar, tapi karena stimulusnya lebih terkurasi.
Apakah ini berarti saya menutup mata dari realitas? Tidak juga. Saya hanya menunda. Seperti mengetahui ada hulu ledak nuklir tanpa perlu mempelajari mekanismenya di usia tujuh tahun. Pengetahuan itu ada, tapi tidak mendesak untuk diurai sekarang.
Masalahnya, orang tua modern sering terjebak pada satu godaan besar: terapi ala TED Talk. Setiap kejadian kecil ingin langsung diberi makna besar. Anak takut? Duduk. Tatap mata. Jelaskan konsep keberagaman, identitas, dan sejarah sosial selama dua puluh menit. Padahal anaknya cuma kaget melihat sesuatu yang ganjil menurut peta dunianya.
Dalam parenting receh, ada kebijaksanaan yang lebih sederhana: jangan menambah beban makna. Tidak semua ketakutan harus disembuhkan hari itu juga. Tidak semua kebingungan perlu diskusi panel. Kadang cukup dengan tidak memperpanjang narasi.
Saya tidak bilang, "Itu bahaya." Saya juga tidak bilang, "Kamu harus berani." Saya biarkan lewat. Anak takut, lalu lupa. Trauma kecil yang tidak disiram wacana biasanya menguap sendiri.
Antropologi mengajarkan satu hal penting: manusia belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tapi dari apa yang tidak ditekankan. Dalam parenting, keputusan untuk diam sering kali sama politisnya dengan keputusan untuk bicara.
Cluster bukan soal eksklusivitas sosial. Ia hanya ruang jeda. Tempat anak menguatkan struktur batinnya sebelum dunia datang dengan segala keanehannya. Karena dunia pasti datang. Dengan atau tanpa tambur.
Dan ketika nanti anak bertanya lagi, saat folder di kepalanya sudah lebih banyak, barulah percakapan bisa terjadi. Tanpa ancaman. Tanpa TED Talk. Cukup obrolan manusia ke manusia—yang sama-sama masih belajar memahami dunia yang kadang memang lucu, kadang absurd, dan sering kali terlalu serius untuk dibahas sambil panik.
0 komentar