Dari Tsundere Parent ke Honne Parent: Upgrade Batin Orang Tua Kota yang Kebanyakan Siaga
Ada satu kalimat pendek yang belakangan terasa seperti mantra dewasa bagi saya:
“Namanya juga anak-anak.”
Pendek. Sederhana. Tapi rasanya matang.
Bukan permisif. Bukan cuek. Tapi sadar konteks.
Kalimat ini biasanya muncul setelah ada laporan lapangan:
“Anak kita dicakar temannya.”
Bukan dicakar harimau. Bukan dicakar sistem. Dicakar temannya yang juga bocah, kukunya panjang, emosinya pendek.
Di titik ini, orang tua kota sering naik ke mode Siaga 1 Nasional.
Telepon menyala. Grup WhatsApp orang tua menghangat. Dua keluarga siap turun gelanggang, lengkap dengan narasi, saksi, dan luka batin lintas generasi. Anak-anaknya? Sudah baikan sambil makan ciki.
Saya memilih berhenti sebentar dan berkata:
“Namanya juga anak-anak.”
Suruh baikan. Awasi dari jauh. Pastikan tidak jadi brutal. Selesai.
Tidak perlu orang tua turun ke arena pakai baju suporter, teriak dari pinggir ring, seolah anaknya sedang final UFC.
Waktu kecil dulu, kami punya arsip kolektif yang mirip.
Berantem. Dicakar. Jatuh. Pulang dengan lutut berdarah dan hati setengah remuk.
Respons orang tua kami nyaris seragam:
Bukan, “Aduh anak mamah, sini diobatin.”
Tapi,
“Halah cengeng. Duduk. Jangan nangis.”
Kalimatnya kejam. Tangannya lembut.
Sambil ngomel, tangan sibuk membersihkan luka.
Secara psikologis ini absurd, tapi fungsional.
Kalau pakai istilah budaya Jepang, orang tua dulu itu tsundere parent.
Mulutnya galak, gesturnya peduli.
Ekspresi luarnya dingin, niat batinnya hangat.
Sekarang, banyak dari kita—termasuk saya—adalah honne parent.
Perasaan ditampilkan apa adanya.
Anak sedih, orang tua ikut sedih.
Anak marah, orang tua ikut panas.
Empati tanpa rem.
Masalahnya, empati yang tidak diberi jarak bisa berubah jadi intervensi berlebihan.
Antropolog Peter Gray (2013) mencatat bahwa konflik kecil antar anak—dorong-dorongan, adu mulut, bahkan berantem kecil—adalah bagian alami dari pembelajaran sosial. Anak belajar batas, negosiasi, rekonsiliasi, dan hierarki tanpa modul parenting.
Psikolog Lev Vygotsky (1978) bahkan lebih kejam: perkembangan sosial justru terjadi di ruang yang tidak steril. Kalau semua konflik langsung diambil alih orang tua, anak belajar satu hal—lapor, bukan menyelesaikan.
Ironisnya, kami generasi 90 adalah mantan bocah petualang.
Main lintas desa. Mandi sungai tanpa pengawasan.
Maling jambu. Dikejar anjing. Dikejar pemilik kebun.
Anehnya, kami selamat. Tanpa luka berarti. Tanpa trauma PowerPoint.
Sekarang, anak main beda gang saja sudah dicari.
Padahal kami mengeluh:
“Anak sekarang kok rapuh ya?”
Ya jelas.
Kami membentuk cendekiawan tapi berharap mereka jago berantem.
Kami menyterilkan hidup mereka, lalu heran kenapa daya tahannya rendah.
Ini bukan salah siapa-siapa.
Ini upgrade batin level kota—hidup makin kompleks, risiko makin terasa, informasi makin bising. Orang tua jadi ikut siaga, bahkan saat tidak perlu.
Maka mungkin tugas kita bukan kembali jadi orang tua galak era dulu.
Tapi meminjam satu sikapnya: jarak yang sehat.
Bukan cuek. Bukan keras.
Tapi tahu kapan masuk, kapan menonton dari jauh.
Anak dicakar?
Lihat lukanya. Pastikan aman.
Suruh baikan.
Selesai.
Karena konflik kecil itu bukan kegagalan pengasuhan.
Itu latihan hidup versi anak-anak—tanpa notulen rapat, tanpa konferensi pers, dan tanpa orang tua yang merasa perlu ikut bertarung.
Dan mungkin, di tengah dunia kota yang terlalu sensitif, kalimat paling dewasa memang tetap yang paling sederhana:
“Namanya juga anak-anak.”
0 komentar