Minum Jamu Pahit Pakai Sendok Bedah
Catatan Antropologi Receh tentang Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan
Saya punya kebiasaan aneh: ketika hidup terasa absurd, saya tidak merapikannya—saya memperparah absurditasnya. Bukan karena saya ingin kabur, tapi karena saya ingin bertahan. Kalau dunia datang seperti orang marah bawa toa, saya menjawabnya dengan metafora yang lebih ribut.
Contohnya sederhana:
ada orang menulis narasi hidupnya seperti dikejar deadline, saya refleks bertanya, ini orang sudah minum berapa strip paracetamol?
Atau melihat laki-laki dewasa yang tampak gagah tapi reaksinya seperti bocah SD yang kehilangan penghapus—saya bilang saja: anak kecil yang terjebak dalam tubuh dewasa. Selesai. Lebih jujur. Lebih hemat energi.
Saya sadar, ini terdengar seperti bercanda. Tapi justru di situlah mekanismenya bekerja.
Dalam psikologi, humor—terutama humor absurd—sudah lama dikenal sebagai coping mechanism. Freud (1905) menyebut humor sebagai cara ego menyelamatkan diri dari tekanan realitas tanpa harus menyangkalnya. Bahasa sederhananya: kenyataan pahit, tapi kita tidak menelannya mentah-mentah. Kita kasih sambal. Atau dalam versi saya: minum jamu pahit pakai sendok bedah—sama-sama menyakitkan, tapi setidaknya terasa cerdas.
Saya tumbuh dari bacaan yang aneh. Satu kaki di koran Lampu Merah yang slapstick-nya kadang kejam, satu kaki di media “serius” yang dingin, rapi, dan sering terlalu steril. Dari sana saya belajar satu hal: manusia butuh katup emosi, bukan hanya kebenaran.
Lampu Merah mengajari saya tertawa di tengah absurditas hidup kelas bawah. Bukan menertawakan korban, tapi menertawakan nasib yang terlalu serius untuk ditangisi terus-menerus. Sementara media dingin mengajari saya jarak: bahwa tidak semua hal harus ditanggapi dengan emosi penuh. Dua-duanya saya campur. Hasilnya aneh, tapi fungsional.
Antropolog seperti Victor Turner (1969) menyebut ruang semacam ini sebagai liminal space—ruang antara serius dan main-main, antara aturan dan pelanggaran. Di situlah manusia bisa bernapas. Humor absurd bekerja di wilayah itu: tidak menyangkal penderitaan, tapi juga tidak tenggelam di dalamnya.
Makanya saya bisa bilang:
- ayah zaman dulu itu tsundere parent—marah-marah tapi tangannya tetap membersihkan luka,
- orang dewasa sekarang banyak yang memelihara iblis di dalam dada—bukan setan, tapi konflik batin yang tidak pernah diberi nama,
- dan sebagian konten reflektif di media sosial itu sebenarnya bukan filsafat hidup, tapi ventilasi emosi yang lagi mampet.
Saya tidak sedang meremehkan refleksi. Justru sebaliknya. Saya menurunkan suhunya supaya bisa disentuh manusia biasa. Karena refleksi yang terlalu dingin sering berubah jadi racun yang mengendap. Dan slapstick yang sadar konteks justru bisa jadi obat.
Albert Camus (1955) bilang hidup itu absurd, tapi solusi bukan bunuh diri—melainkan pemberontakan batin. Versi dapur saya: ketawa dulu, mikir belakangan. Bukan karena mikir itu nggak penting, tapi karena mikir tanpa jeda bikin orang jadi pahit.
Di titik ini, saya paham kenapa saya nyaman dengan metafora berlebihan. Itu bukan gaya, tapi mekanisme bertahan. Kalau hidup sudah absurd, bahasa yang terlalu lurus malah terasa bohong. Maka saya pilih metafora yang lebih jujur, walau kelihatannya konyol.
Saya tahu batas. Tidak semua tragedi pantas ditertawakan. Tapi banyak kepenatan pantas dilepaskan dengan tawa kecil. Bukan untuk menghilangkan masalah, tapi supaya besok masih sanggup bangun dan menghadapinya.
Jadi kalau tulisan saya terasa aneh, slapstick tapi reflektif, reflektif tapi suka kabur sambil ketawa—itu bukan kebetulan. Itu cara saya menjaga batin tetap hidup di dunia yang sering lupa caranya bernapas.
Lagipula, kalau hidup ini serius terus, kita cuma akan jadi orang yang minum jamu pahit…
tanpa sendok apa pun.
0 komentar