Kipas, PayLater, dan Saya: Catatan Antropologi Receh tentang Mental Kepiting

by - 12:00 AM

Saya duduk santai di beranda, sambil menyesap kopi panas, menonton tetangga-tetangga sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Satu membeli kipas baru, satunya lagi kelihatan kepanasan tapi komentarnya pedas: “Ah, pasti kipasnya mahal banget, beli dari uang ngapain gitu deh.” Saya tersenyum tipis, berpikir: oke, ini namanya crab mentality—atau bahasa lokalnya, gampang iri sama yang lebih dari kita, sambil tarik orang ke bawah.

Di desa, fenomena ini terasa jelas. Kalau tetangga beli kendaraan baru, ada yang segera mencari celah: mungkin hasil korupsi, mungkin utang yang ga jelas. Omongan itu jadi semacam ritual sosial: memeriksa, menilai, dan—kadang-kadang—menertawakan. Ekonomi terbatas, tapi kreativitas julidnya tinggi. Saya menonton sambil berpikir, “Wajar, energi ekonomi terbatas bikin imajinasi sosial meledak.”

Lalu saya pindah ke kota, dan pola julid bergeser. Kini bukan lagi soal siapa lebih kaya, tapi soal konsumtif. Teman kantor beli tumbler seharga cicilan motor satu bulan, dan saya melihat fenomena yang familiar: orang berusaha membeli barang sejenis, biar tidak ‘terlalu berbeda’, biar tetap bagian dari komunal. PayLater, cicilan, diskon flash sale—semua alat modern untuk menjaga posisi sosial, menjaga jarak dari rasa malu: saya bisa megap-megap, tapi kalau saya tidak ikut, saya dianggap out.

Dari sudut antropologi, fenomena ini masuk dalam kajian kognisi sosial dan kompetisi simbolik (Bourdieu, 1984). Barang-barang bukan sekadar fungsi, tapi simbol status, integrasi sosial, dan rasa aman dalam komunitas. Di desa, simbol itu lebih verbal; di kota, lebih konsumtif dan tersalurkan lewat mekanisme ekonomi modern. Julid, atau crab mentality, bukan sekadar iri; ia adalah cara komunitas mempertahankan hierarki sosial, sambil mengamati siapa yang “aman” dan siapa yang tampak berlebihan.

Saya mengamati semua ini sambil menahan tawa. Lucunya, pola ini universal, tapi medianya berubah: dulu suara di beranda, sekarang notifikasi di WhatsApp. Di desa, orang julid sambil ngobrol; di kota, orang julid sambil swipe paylater. Tapi inti fenomenanya sama: manusia menilai orang lain, sambil berusaha merasa aman di tempatnya sendiri.

Dan saya, tentu saja, tetap menjadi pengamat receh. Duduk santai, menyesap kopi, sambil berpikir: “Ya sudah, mereka mau julid, aku juga mau senang sendiri. Biarin kipas, biarin tumbler, hidup tetap jalan.” Sambil senyum tipis, saya sadar—mental kepiting memang bikin ramai, tapi bagi saya, cukup lucu untuk dicatat.


You May Also Like

0 komentar