Kumur-Kumur Akademik dan Produksi Mahasiswa ‘Bego’

by - 12:00 PM

 Reportase Antropologis dari Ruang Kelas yang Terlalu Pintar untuk Dimengerti

Pagi itu ruang kelas terasa seperti akuarium. Dingin, sunyi, dan penuh makhluk hidup yang bergerak tanpa suara. Di depan, seorang dosen berdiri dengan percaya diri—gestur mantap, slide rapi, istilah asing berloncatan seperti ikan cupang. Di bangku, kami duduk rapi, mencatat seadanya, dan sepakat pada satu kesimpulan kolektif: kami bodoh.

Label itu datang pelan-pelan, seperti stempel basah di kertas absen. “Mahasiswa bego,” katanya. Bukan makian, lebih mirip fakta alam. Kami mengangguk, menerima. Toh, kami tidak paham apa-apa. Kalimat dosen terdengar seperti orang kumur-kumur: ada air, ada gerak bibir, tapi tak satu pun yang ditelan.

Di sinilah antropologi receh mulai bekerja. Sebab kebodohan, dalam praktiknya, sering bukan kondisi kognitif—melainkan produk sosial.

Dosen itu pintar. Terlalu pintar. Ia berbicara dengan bahasa yang sudah selesai di kepalanya, tapi belum lahir di kepala kami. Ia melompat dari konsep ke konsep seperti atlet lompat galah, sementara kami masih mengikat tali sepatu. Di titik ini, pendidikan berubah menjadi pertunjukan: siapa paling fasih menyebut istilah, dialah pemenangnya.

Beberapa minggu kemudian, masuklah profesor. Rambut memutih, suara tenang, slide kadang miring. Materinya sama. Kata-katanya justru lebih sederhana. Ia berhenti di tengah kalimat, memberi jeda, bercerita tentang contoh yang terlalu sehari-hari untuk disebut akademik. Dan keajaiban pun terjadi: kami paham.

Kami saling pandang. Bukan karena tercerahkan, tapi karena curiga. Kok bisa?

Dalam psikologi kognitif klasik, Jerome Bruner (1960) menyebutnya scaffolding: pengetahuan itu seperti bangunan—harus ada tangga, bukan teleport. Profesor itu tidak sedang pamer gedung. Ia sedang membangun tangga. Dosen kumur-kumur? Ia memamerkan gedung sambil berkata, “Naiklah.”

Di titik ini, julukan “mahasiswa bego” runtuh seperti dinding gipsum. Yang ada bukan mahasiswa bego, melainkan metode yang gagal menerjemahkan. Kebodohan hanyalah nama lain dari kegagalan komunikasi yang tidak mau disalahkan.

Lampu merah versi kampus mencatat: setiap tahun, ribuan mahasiswa lulus dengan trauma istilah. Mereka tidak bodoh; mereka hanya pernah disiram jargon tanpa handuk. Di sisi lain, sistem dengan santai mengafirmasi: yang tidak paham berarti tidak cerdas. Padahal, Pierre Bourdieu (1984) sudah lama berbisik: bahasa adalah alat kekuasaan. Siapa menguasai bahasa, menguasai legitimasi. Siapa tidak, dicap bego.

Tempo akan menulisnya lebih dingin: ini soal habitus. Dosen dan mahasiswa hidup di ekosistem simbol yang berbeda. Yang satu berenang di abstraksi, yang lain masih mengayuh di konkret. Tanpa jembatan, yang terjadi bukan belajar, tapi tenggelam.

Maka jangan heran jika mahasiswa yang sama—dengan otak yang sama—tiba-tiba “pintar” di tangan pengajar lain. Tidak ada mutasi genetik di sela jam kuliah. Yang berubah hanya cara bicara.

Kebodohan, rupanya, bukan penyakit bawaan. Ia bisa sembuh hanya dengan satu resep sederhana: cara menyampaikan yang manusiawi.

Dan sejak hari itu, kami berhenti menyebut diri kami bego. Kami menyebutnya apa adanya: kami pernah diajar dengan metode kumur-kumur.

Airnya banyak. Maknanya tidak masuk.

Di luar kelas, kehidupan berjalan seperti biasa. Tapi di kepala kami, satu pelajaran tinggal lama: jika suatu hari kami berdiri di depan kelas, jangan pernah kumur-kumur. Minum. Telan. Cerna. Lalu bicara.

Karena pintar itu bonus. Dimengerti itu tanggung jawab.

You May Also Like

0 komentar