Ranjang Ber-AC, Lorong Tanpa Angin, dan Dusta Kecil Bernama: Uang Tak Bisa Membeli Bahagia

by - 12:00 AM


(Catatan Antropologi Receh dari Seorang Pasien Jalur Pribadi)


Saya masuk rumah sakit lewat jalur pribadi bukan karena ingin gaya. Alasannya receh dan jujur: saya tidak betah antre, saya butuh kepastian, dan—ini bagian paling tidak filosofis—saya mampu. Tidak ada manifesto ideologis. Tidak ada niat merendahkan siapa pun. Saya hanya ingin cepat, jelas, dan pulang tanpa drama.

Lalu saya berjalan menyusuri lorong rumah sakit.

Di satu sisi, pasien BPJS duduk berderet. Lorong panjang, udara hangat, kipas entah hidup entah mati. Wajah-wajah sabar yang sudah terlalu sering berlatih sabar. Tidak ada keluhan keras. Hanya tubuh-tubuh yang menunggu giliran diperlakukan sebagai “kasus”.

Di sisi lain—belok sedikit—saya masuk dunia paralel. Lounge ber-AC dingin seperti lobi hotel. Sofa empuk. Toiletnya lebih bersih dari toilet rumah saya sendiri. Paramedis menyapa dengan intonasi yang terlalu sopan sampai terasa seperti sedang melayani tamu negara. Saya sampai mikir: mas, saya cuma mau periksa, bukan mau ditawari paket honeymoon.

Saya tahu ini SOP. Saya tahu ini bukan personal. Tapi tubuh saya merasakannya. Dan tubuh, kata Pierre Bourdieu (1977), selalu lebih jujur dari pikiran. Ia langsung tahu: oh, begini rasanya berada di kelas sosial yang “dipermudah”.

Di titik itu, antropolog receh dalam diri saya bangun sambil ngopi:
oh, jadi inilah logika bisnis rumah sakit.

Secara struktural, rumah sakit memang entitas ambigu. Ia institusi kemanusiaan sekaligus korporasi. Michel Foucault (1973) sudah lama bilang: klinik modern bukan cuma tempat menyembuhkan, tapi juga tempat mengklasifikasikan tubuh. Dan klasifikasi itu—maaf—punya tarif.

BPJS dibayar negara. Tapi sering telat. Kadang gagal klaim. Kadang berantakan secara administrasi. Maka tubuh BPJS diperlakukan sebagai tubuh “yang harus dihemat”. Bukan disakiti—jangan lebay—tapi diatur seminimal mungkin. Lorong tanpa AC bukan kekerasan, tapi penghematan yang dingin secara moral.

Sementara saya, dengan jalur pribadi, tubuh saya diperlakukan sebagai customer experience. Kenyamanan bukan bonus, tapi paket utama. Bahkan empati pun terasa seperti fitur premium.

Lalu muncul kalimat klasik yang sering diulang di seminar motivasi:
“Uang tidak bisa membeli kebahagiaan.”

Saya ingin tertawa kecil di lorong rumah sakit.

Karena di situ, uang jelas membeli ketenangan.
Dan ketenangan, menurut psikologi positif, adalah salah satu komponen utama kesejahteraan subjektif (Diener, 1984). Bukan euforia. Bukan tawa terbahak. Tapi rasa aman: tidak antre, tidak bingung, tidak merasa merepotkan sistem.

Saya bahagia?
Ya, dalam arti paling banal dan jujur: saya tidak stres.

Daniel Kahneman (2010) membedakan antara experienced well-being dan remembered well-being. Mungkin uang tidak selalu membeli makna hidup jangka panjang. Tapi dalam pengalaman langsung—di ruang tunggu, di ranjang ber-AC—uang bekerja sangat efektif.

Yang membuat saya gelisah justru bukan kenyamanan saya, tapi kontrasnya. Bahwa dalam satu gedung yang sama, kemanusiaan punya dua suhu. Yang satu dingin karena AC, yang satu hangat karena tidak ada pilihan.

Saya tidak merasa bersalah. Tapi saya juga tidak bisa pura-pura buta. Ini bukan soal iri atau dengki. Ini soal menyadari bahwa ketimpangan bukan selalu brutal. Kadang ia sangat sopan, bersih, dan beraroma disinfektan.

Antropologi menyebut ini structural inequality—ketimpangan yang terasa wajar karena sudah dilembagakan (Paul Farmer, 2004). Tidak ada yang marah. Tidak ada yang berteriak. Semua berjalan rapi. Dan justru di situlah masalahnya.

Saya pulang dari rumah sakit dengan kondisi baik. Badan oke. Pikiran penuh. Dan satu catatan kecil di batin:
mungkin uang tidak membeli kebahagiaan universal,
tapi jelas membeli pengalaman hidup yang lebih manusiawi—setidaknya untuk sementara.

Sisanya?
Itu urusan struktur, kebijakan, dan negara.
Saya cuma antropolog receh yang kebetulan lewat lorong itu hari ini.

Dan seperti biasa, saya tertawa kecil sambil mikir:
hidup ini aneh ya—bahkan sakit pun punya kelas layanan.

You May Also Like

0 komentar