Bakwan, Gado-Gado, dan Parasit yang Merasa Pohon

by - 6:00 PM


Hidup saya belakangan ini rasanya seperti bakwan dicelup ke gado-gado. Harusnya gorengan, eh kena saus kacang. Lucu, absurd, tapi entah kenapa masih masuk akal. Mungkin karena hidup memang jarang konsisten seperti buku panduan, lebih sering seperti sisa minyak di wajan: panasnya beda-beda, tapi tetap harus dipakai goreng hari ini.

Saya pernah ribut receh dengan mantan karyawan. Receh dalam kronologi, berat di batin. Ia datang telat tanpa kabar, ritme kerja berantakan, lalu dengan santainya bilang, “Nanti diganti lembur.” Di kepala saya, alarm berbunyi: ini usaha saya, bukan ruang tunggu stasiun. Waktu itu bukan barang yang bisa digadaikan seenaknya.

Ia keluar sendiri. Tidak dipecat. Tapi dinginnya suasana membuatnya merasa tak dibutuhkan. Narasi itu ia bawa pulang, diramu, lalu disajikan ke istrinya sebagai hidangan utama: aku korban. Beberapa hari kemudian, istrinya menghubungi saya. Katanya ia sedih, suaminya seperti tidak dihargai.

Di titik itu saya tertawa kecil. Bukan karena lucu—tapi karena tubuh sudah terlalu penuh. Saya buka peta perang dengan nada yang, jujur saja, sudah bukan nada bakwan hangat.

Saya bilang: sebagai istri mantan karyawan, menghubungi mantan atasan itu tidak etis. Saya juga bilang: saya tidak akan membedah cerita versi suami Anda, karena itu jelas narasi satu arah. Lalu saya jelaskan fakta—tentang keterlambatan, tentang ritme, tentang bagaimana profesionalisme bukan barang yang gugur hanya karena relasi sudah terasa akrab.

Setelah itu saya duduk. Diam. Bertanya ke diri sendiri: kelewatan nggak ya?
Kalau orang benar-benar jahat, pertanyaan itu tidak akan muncul. Tapi empati memang suka datang telat, seperti karyawan yang tidak pamit.

Belakangan saya sadar, ini bukan soal benar atau salah. Ini soal batas. Saya paham batas. Dia tidak. Mungkin karena sejak kecil ia hidup tanpa figur. Mungkin karena ia mengira kedekatan berarti kebebasan tanpa konsekuensi. Di titik tertentu, benih yang saya tanam tumbuh—lalu akarnya merambat ke jaringan pohon. Kalau dibiarkan, pohonnya mati. Jadi ya, beberapa akar harus dipatahkan. Bukan karena benci, tapi karena ingin pohon bernapas.

Ironisnya, saya masih datang ke pernikahannya. Tanpa agenda, tanpa pidato, tanpa “lihat siapa yang sukses sekarang.” Hanya hadir. Karena saya masih manusia, bukan sistem ERP.

Drama seperti ini tidak eksklusif milik saya. Satpam komplek merasa pemilik estate. Buruh pabrik merasa komisaris. Pengendara motor merasa sirkuit adalah hak waris. Saya sendiri? Kalau dipaksa marah, ya marah. Padahal default saya tukang dzikir—yang sesekali nyeletuk lucu biar batin nggak berjamur.

Masalahnya sering bukan hitam putih. Saya juga salah. Kadang terlalu mencampur profesionalisme dengan relasi intim. Karyawan salah karena mengira keintiman menghapus struktur. Dua-duanya bertemu di satu titik: ekspektasi yang tidak disepakati.

Di rumah, emak saya dulu merangkum ini dengan bahasa Sunda yang sederhana tapi kejam sekaligus lembut:
Jelma mah jul-jol. Datang dan pergi.
Manusa mah ninggalkeun nilai.

Orang bisa pergi dengan membawa dendam, atau pergi sambil tetap menyisakan kemanusiaan. Saya memilih yang kedua, walau kadang sambil ngos-ngosan.

Jadi kalau hari ini hidup terasa seperti bakwan dicampur gado-gado, mungkin itu tanda kita masih hidup. Masih bereaksi. Masih mikir: “Tadi kebablasan nggak ya?” Dan itu bukan kelemahan—itu rem darurat bernama empati.

Lagipula, kalau semuanya rapi, dunia pasti sepi.
Dan kalau dunia sepi, kita mau goreng apa?


You May Also Like

0 komentar