Sejarah Penipuan Selalu Sama, Cuma Topengnya Ganti

by - 6:00 AM

Ada satu hal yang membuat saya tenang menua:

fenomena manusia itu berulang, hanya kostumnya yang ganti.

Dulu, zaman SMS masih berjaya, ada pesan masuk dengan nada kemenangan palsu:
“Selamat! Anda mendapatkan uang 30 juta rupiah.”
Saya membalas dengan gembira yang lebih palsu: “Buat kamu saja uangnya.”
Penipuan gagal bukan karena sistem canggih, tapi karena saya malas berharap.

Lalu datang demam batu akik.
Orang berburu energi kosmik, fosfor, khodam, jin spesialis pencahayaan malam.
Saya ambil cincin kecil dan lucu. Bukan karena spiritual, tapi karena kalau salaman tidak melukai sesama.
Antropologi menyebut ini self-regulation through irony—cara manusia bertahan dengan mengecilkan hasrat (Geertz, 1973). Saya tidak sadar waktu itu sedang bijak; saya cuma tidak mau benjol lagi.

Masuk era investasi digital.
Crypto, robot trading, binary option, tek tek bengek bernama lain.
Saya tidak anti, saya hanya malas ditarik afiliator gorengan yang bicara seperti nabi akhir zaman.
Saya pilih yang di bawah OJK. Bukan karena paling untung, tapi karena tidur saya mahal.
Daniel Kahneman (2011) bilang: manusia sering kalah bukan karena bodoh, tapi karena terlalu optimis saat tidak perlu.

Sekarang, giliran AI.

Narasinya sama.
“AI akan menggantikan manusia.”
“Kalau tidak pakai AI, kamu tertinggal.”
“Dengan AI, kamu bisa jadi apa saja.”

Saya senyum.
Karena saya sudah pernah mendengar kalimat itu, hanya beda nama benda.

Antropologi teknologi menyebut ini recurring hype cycle (Gartner, sejak 1995):
fase kagum → fase pamer → fase ketakutan → fase normal → fase banal.
AI sedang ada di tengah-tengah: antara pamer dan ketakutan.

Saya memilih jalur yang membosankan: pakai AI buat diri sendiri.
Buat mikir, buat nulis, buat ngolah limbah batin.
Bukan buat jual kelas, bukan buat pamer prompt.

Lagipula, kalau hidup dari jualan kelas AI, lucu juga:
hari ini ngajarin prompt, besok AI bisa bikin prompt sendiri.
Hari ini saya bilang: “buat prompt seolah-olah kamu presiden”,
besok orang bilang: “buatkan saya prompt agar saya terlihat seperti orang yang paham AI.”
Lalu selesai. Ular makan ekor sendiri.

Sosiolog menyebut ini reflexive modernity (Beck, 1992):
masyarakat modern menciptakan sistem yang akhirnya menertawakan penciptanya sendiri.

Maka saya santai.
AI nanti akan banal. Semua bisa. Semua punya.
Seperti SMS. Seperti batu akik. Seperti crypto.

Yang tersisa bukan alatnya, tapi cara manusia mengelola dirinya.

Saya tidak merasa tertinggal.
Saya hanya memilih tidak berlari di lomba yang ujungnya sudah saya lihat polanya.

Kalau dulu saya lolos dari penipuan SMS karena malas berharap,
lolos dari batu akik karena malas pamer,
lolos dari gorengan investasi karena malas kaya instan,
maka dari AI pun saya ingin lolos dengan cara yang sama:
cukup pakai, tidak silau.

Karena pengalaman mengajarkan satu hal sederhana:
yang bikin manusia jatuh bukan teknologinya,
tapi hasratnya yang tidak diajak duduk.

Dan saya sudah capek berdiri terlalu lama.
Lebih enak duduk, minum kopi, ngetik receh,
sambil lihat dunia mengulang dirinya sendiri—
dengan topeng yang selalu baru,
dan lelucon yang sebenarnya itu-itu saja. 😄


You May Also Like

0 komentar