Belajar Hidup Tanpa Menjadi Korban Sejarah Konyol

by - 12:00 PM

(Catatan Antropolog Receh dari Bangku Penonton)


Ada satu hal yang saya kenal betul polanya:
tidak membuat sejarah konyol berulang untuk hidup saya sendiri.

Bukan karena saya lebih pintar, apalagi lebih suci.
Tapi karena saya memilih duduk sedikit ke belakang—sebagai pengamat receh, antropolog ala-ala—dan membiarkan dunia mempertontonkan dirinya sendiri.

Saya belajar dari orang yang datang dan pergi.
Dari mereka yang jatuh lalu bangun, dari yang menindas atas nama kebenaran, dan dari yang mengasuh sambil diam-diam menyimpan luka. Saya menonton cukup lama sampai satu titik: ketika saya terpeleset, saya tidak lagi terkejut. Rasanya seperti, “oh, pola ini lagi.”

Pengalaman itu mengingatkan saya pada kisah seorang coach e-sport Mobile Legends yang tidak pernah benar-benar menjadi pemain profesional game itu. Ia jebolan Dota 2—game PC, medan berbeda, mekanik berbeda. Tapi ia paham satu hal: struktur permainannya mirip.

Ia menonton turnamen 15 jam sehari.
Bukan main—menonton.
Ia menyerap cara tim berkoordinasi, bagaimana ego dikubur demi sinergi, bagaimana satu kesalahan kecil bisa menjatuhkan permainan. Ia juga menonton streamer yang bermain sambil menjelaskan POV mereka. Dari luar, ia masuk ke dalam.

Dan ia sukses besar. Cepat. Diperhitungkan.

Kuncinya sederhana tapi jarang:
ia tidak malu menurunkan ego.
Ia berkata, “saya belajar dari pemain ini dan itu.”
Ia hidup di dalam game itu—tanpa harus menjadi pemain utamanya.

Dalam antropologi, posisi seperti ini bukan hal asing. Clifford Geertz menyebutnya thick description—memahami makna dengan mengamati lapisan demi lapisan, bukan dengan lompat menjadi aktor. Pierre Bourdieu menyinggung soal habitus: pola yang terus berulang, tertanam dalam tubuh dan keputusan manusia, sering kali tanpa disadari. Kita bisa terjebak di dalamnya, atau—kalau cukup sabar—melihatnya dari luar.

Saya memilih yang kedua.

Saya tidak masuk gelanggang untuk jadi pahlawan moral.
Saya tidak tergoda untuk “meluruskan dunia.”
Saya hanya mencatat: oh, begini biasanya drama dimulai. Oh, di sini orang mulai salah langkah. Oh, di titik ini ego mengambil alih.

Maka ketika saya sendiri tersandung, rasa kagetnya minim.
Bukan karena kebal, tapi karena sudah pernah melihat adegannya dimainkan oleh orang lain.

Pendekatan ini mungkin terdengar dingin.
Tapi bagi saya, justru ini cara paling manusiawi untuk bertahan hidup tanpa harus terus berdarah-darah. Hannah Arendt pernah menulis tentang banality of evil—bahwa keburukan sering terjadi bukan karena niat jahat besar, melainkan karena orang berhenti berpikir dan hanya mengikuti arus. Menjadi pengamat adalah cara saya untuk tidak ikut hanyut.

Saya tidak sedang membanggakan jarak.
Saya hanya menghargai jeda.

Dalam hidup, seperti dalam game, tidak semua orang harus turun ke arena. Ada yang tugasnya bermain. Ada yang tugasnya menonton cukup lama, lalu memahami. Dan kadang, yang terakhir justru paling tahu kapan sebuah permainan akan berakhir buruk—tanpa harus mengulang kesalahan yang sama.

Saya memilih belajar dari sejarah konyol orang lain.
Bukan untuk menghakimi.
Tapi supaya hidup saya tidak perlu menuliskannya ulang.

Dan sejauh ini, pilihan itu terasa cukup masuk akal.

You May Also Like

0 komentar