Jangkar Makna: Catatan Marah yang Akhirnya Duduk Manis

by - 12:00 PM


Saya tidak pernah berniat jadi orang spiritual. Apalagi bijak. Yang saya tahu cuma satu: saya capek ribet. Dan entah kenapa, hidup—termasuk agama—sering disajikan dalam bentuk yang ribetnya minta ampun, penuh ancaman, penuh simbol, penuh orang lain, tapi miskin pengalaman diri.

Sejak kecil, saya akrab dengan kalimat sakti: “Dalam suatu riwayat…” atau “Ada kisah seseorang yang…”. Tokohnya jauh, zamannya entah kapan, dan ujungnya selalu sama: kita harus mawas diri.
Masalahnya, saya tidak pernah benar-benar merasa diajak duduk. Saya hanya dilempari kisah, lalu disuruh merasa bersalah.

Di titik tertentu, saya marah.
Bukan marah kecil, tapi marah eksistensial: marah pada Tuhan—atau lebih tepatnya, pada cara Tuhan dipakai. Tuhan berubah fungsi jadi alat gertak. Awas kalau tidak sholat. Awas neraka.
Dan refleksi paling jujur yang muncul di kepala saya waktu itu sederhana tapi berbahaya:
emang Tuhan butuh saya?

Pertanyaan ini sering disalahpahami sebagai pembangkangan. Padahal, dalam psikologi eksistensial, ini fase yang sangat wajar: saat individu berhenti menelan makna dari luar, lalu mulai menegosiasikannya di dalam. Viktor Frankl menyebut manusia bukan makhluk pencari kenikmatan atau kekuasaan, tapi pencari makna. Masalahnya, makna tidak bisa dipaksa lewat ancaman.

Saya lalu menggeser titik berangkat. Sedikit saja. Tapi efeknya besar.
Bukan lagi: Tuhan butuh disembah, melainkan: saya butuh Tuhan.

Dan tiba-tiba semuanya turun tensinya.
Kalau saya tidak sholat, Tuhan tetap Tuhan. Ia tidak kehilangan keagungan. Yang berantakan justru saya—ritme, batin, dan fokus hidup. Di sini, ibadah berhenti jadi kewajiban berbasis takut, dan berubah jadi jangkar makna. Sesuatu yang saya pegang agar tidak hanyut.

Dalam sosiologi agama, ini dikenal sebagai pergeseran dari religion as authority ke religion as meaning system. Agama tidak lagi berdiri sebagai menara pengawas moral, tapi sebagai perangkat simbolik yang membantu manusia menata hidupnya sendiri. Ini bukan pengurangan iman, justru pendewasaan iman.

Yang menarik, kemarahan saya tidak hilang. Ia hanya berubah bentuk.
Marah itu sekarang jinak. Ia tidak lagi ingin merusak, tapi mengingatkan: awas kalau makna dipinjamkan terus dari luar, kamu bisa kehilangan suara batin sendiri.

Di titik ini saya sadar, mungkin masalah kita bukan kurang cerita suci, tapi kurang keberanian berkata “menurut saya”. Penceramah sering lupa menyebut dirinya sendiri. Seolah pengalaman pribadi itu aib, padahal justru di sanalah jembatan empati berada. Ketika semua kebaikan datang dari kisah orang lain yang diabstraksikan, umat belajar satu hal yang berbahaya: kebaikan itu asing, bukan hasil tawar-menawar batin.

Saya tidak sedang berkhotbah. Ini bukan ajakan, apalagi kebenaran final. Ini catatan orang cerewet yang pernah marah, lalu lelah, lalu duduk sebentar dan berpikir:
kalau Tuhan tidak butuh saya, tapi saya butuh Tuhan—kenapa relasinya harus dimulai dengan ancaman?

Sejak itu, saya sholat bukan karena takut. Tapi karena saya ingin tetap waras.
Dan buat saya, itu sudah cukup sakral.


You May Also Like

0 komentar