Manusia Bukan Papan Tulis Berjalan: Catatan Antropologis tentang Intellectual Exhibitionism di Trotoar

by - 6:00 AM

Saya pernah dikatain goblok bertahun-tahun. Resmi. Bersertifikat. Berstempel kampus.

Dan saya terima dengan lapang dada.
Lah iya, Pak. Kalau saya pintar, ngapain bayar UKT? Ngapain duduk di kelas jam tujuh pagi sambil nahan ngantuk dan lapar? Kalau saya jenius, mungkin saya sudah jadi CEO start-up, pakai jas, ditemani soundtrack drama Cina, dan tidak perlu mikir logaritma sama sekali.

Tapi goblok versi kampus itu goblok yang jujur.
Goblok yang sadar diri.
Goblok yang tahu: “Saya belum paham, makanya saya belajar.”

Yang belakangan ini bikin saya tergelitik justru jenis baru: intellectual exhibitionism.
Pamer kognitif berkedok konten.
Seseorang berdiri di ruang publik—trotoar, pinggir jalan, depan warung—lalu menyodorkan soal yang bahkan perlu meja, kertas, dan ketenangan batin. Kamera menyala. Pertanyaan dilempar. Yang ditanya bengong. Yang nonton tertawa. Algoritma senang.

Secara antropologis, ini bukan tes kecerdasan.
Ini salah konteks yang dilegitimasi.

Manusia itu hidup di ruang. Dan setiap ruang punya fungsi.
Trotoar itu ruang transit.
Warung itu ruang pemulihan.
Jalan umum itu ruang bertahan hidup.

Di ruang-ruang itu, manusia sedang memikirkan hal-hal mendasar:
uang cukup sampai akhir minggu atau tidak,
perut lapar atau tidak,
pulang aman atau tidak,
hidup masih masuk akal atau tidak.

Lalu tiba-tiba ada yang bertanya: “Berapa 9 log 135 dikurangi 9 log 5?”

Ini bukan soal matematika.
Ini soal kesesuaian antara pertanyaan, ruang, dan manusia.

Psikologi kognitif sudah lama bilang—Anderson (1982) menyebutnya procedural knowledge—bahwa pengetahuan seperti logaritma bukan refleks. Ia perlu aktivasi skema, konteks, dan kondisi mental yang relatif stabil. Singkatnya: butuh niat untuk berpikir.
Dan niat itu tidak bisa dipaksa muncul di trotoar.

Ketika seseorang gagal menjawab lalu ditertawakan, yang sedang dipamerkan bukan kecerdasan, tapi kuasa simbolik.
“Lihat, saya bisa. Kamu tidak.”
Bourdieu (1984) menyebut ini symbolic domination—kekuasaan yang bekerja halus lewat bahasa dan legitimasi sosial. Dalam versi konten: like, share, dan komentar “remaja sekarang emang goblok”.

Padahal, goblok itu bukan sifat bawaan.
Goblok itu kondisi situasional.

Orang yang sama, jika ditanya hal yang sesuai dengan dunianya—menjahit, berdagang, meracik bumbu, membaca situasi sosial—bisa tampak sangat cerdas. Tapi kecerdasan itu tidak fotogenik buat algoritma.

Yang lucu, kalau saya balikkan pertanyaannya ke si matematikawan: “Apa tasrif khumatsi mujarrad dari naṣara?”

Kalau dia bengong, apakah sah saya bilang: “Wah, matematikawan goblok”?

Tentu tidak.
Karena kita paham: manusia bukan ensiklopedia berjalan.

Masalahnya bukan pada matematika.
Masalahnya pada niat membuktikan kepintaran dengan menampilkan kebingungan orang lain.

Ini yang membuat intellectual exhibitionism terasa getir. Ia tidak mendidik. Ia hanya mengukuhkan hierarki: yang tahu vs yang tidak tahu, yang layak ditertawakan vs yang merasa pantas menertawakan.

Dalam antropologi, ini disebut kegagalan empati situasional.
Dalam bahasa Lampu Merah: pintar tapi salah tempat.

Menguji kecerdasan orang di tempat ia sedang bertahan hidup itu seperti menyuruh orang berenang sambil dites teori fisika fluida. Kalau tenggelam, lalu dibilang: “Tuh kan, nggak pintar.”

Manusia bukan papan tulis berjalan.
Ia punya konteks, beban, emosi, dan batas.

Dan mungkin, yang paling dewasa bukanlah mereka yang bisa menjawab logaritma di jalan, tapi mereka yang tahu kapan pertanyaan perlu diajukan, dan kapan manusia cukup dibiarkan pulang dengan selamat.

Kalau mau pamer kecerdasan, silakan.
Tapi jangan pakai kebingungan orang lain sebagai cermin untuk merasa tinggi.

Karena pada akhirnya, kecerdasan tanpa empati itu bukan terang.
Itu cuma lampu sorot yang bikin orang silau—lalu pergi sambil merasa kecil.

Dan jujur saja, itu bukan pintar.
Itu cuma ramai.

You May Also Like

0 komentar