Vasektomi, Kejantanan, dan Tubuh yang Terlalu Berharga untuk Diserahkan ke Pisau

by - 6:00 PM


(Catatan Antropologi Receh dari Seorang Ayah yang Gagal Mensterilkan Diri)


Saya sebenarnya sudah mantap. Dua anak cukup. Usia lewat tiga puluh lima. Energi tidak lagi liar, tapi juga belum pensiun. Secara statistik, secara ekonomi, secara logika dapur—vasektomi masuk akal. Bahkan WHO sejak lama menyebut vasektomi sebagai salah satu metode kontrasepsi paling aman, efektif, dan minim risiko jangka panjang (WHO, 2010). Saya merasa rasional. Saya merasa modern. Saya merasa sudah berdamai dengan tubuh sendiri.

Lalu relasi berkata tidak.

Bukan dengan argumen medis. Bukan dengan debat panjang. Kalimatnya pendek, implisit, dan justru antropologis:
“Laki-laki masih gagah di usia 40 juga.”

Saya terdiam.
Bukan karena tersinggung.
Tapi karena… oh, jadi ini ya tubuh saya di mata orang lain.

Di titik itu, saya sadar: tubuh laki-laki ternyata bukan sepenuhnya milik laki-laki. Ia adalah simbol. Cadangan. Investasi. Aset laten. Dalam antropologi maskulinitas, R.W. Connell (1995) menyebut ini sebagai hegemonic masculinity—di mana kejantanan tidak sekadar biologis, tapi sosial, simbolik, dan diwariskan lewat ekspektasi. Bahkan lewat kalimat sayang.

Saya ingin vasektomi bukan karena benci anak. Justru karena terlalu sayang. Dua anak itu cukup untuk dirawat dengan sadar. Saya tidak sedang memusuhi kehidupan, saya sedang mengelolanya. Tapi di meja relasi, tubuh saya tidak berdiri sendiri. Ia duduk bersama mitos: laki-laki harus selalu siap, selalu mungkin, selalu tersedia.

Ironisnya, justru perempuan sering dianggap “pemilik urusan reproduksi”, tapi dalam praktik, tubuh laki-laki disakralkan dengan cara yang aneh. Steril pada perempuan sering dibaca sebagai kelelahan yang bisa dimengerti. Vasektomi pada laki-laki dibaca sebagai penurunan martabat. Seolah-olah ada sesuatu yang dipotong dari identitas, bukan sekadar saluran.

Padahal secara psikologis, keputusan vasektomi pada laki-laki sering lahir dari apa yang disebut generativity—tahap kedewasaan di mana seseorang ingin merawat yang sudah ada, bukan menambah yang baru (Erik Erikson, 1950). Ini bukan krisis maskulinitas, tapi justru tanda maskulinitas yang sudah tidak perlu pembuktian.

Saya sempat berpikir: jangan-jangan tubuh saya dianggap terlalu berharga. Terlalu potensial. Terlalu “jangan dulu”. Seolah saya ini ladang subur yang harus dijaga dari keputusan final. Lucu juga. Saya yang mau steril, malah dilarang, demi masa depan yang bahkan belum tentu saya inginkan.

Dalam etika relasi modern, keputusan reproduksi seharusnya kolaboratif. Tapi kolaboratif tidak selalu simetris. Ada kalanya kolaborasi berarti: satu ingin berhenti, satu ingin kemungkinan tetap terbuka. Di situlah negosiasi batin bekerja. Saya mundur bukan karena kalah argumen, tapi karena relasi bukan arena menang-kalah. Ia arena saling menjaga, meski kadang dengan logika yang tidak sepenuhnya rasional.

Saya jadi sadar: keinginan vasektomi saya bukan soal operasi kecil. Ini soal posisi saya sebagai laki-laki yang ingin turun dari panggung kejantanan permanen. Duduk. Ngopi. Mengasuh. Tidak perlu selalu “siap”. Tapi dunia—bahkan dunia yang paling dekat—belum tentu siap melihat laki-laki yang bilang: cukup.

Antropologi menyebut ini benturan antara tubuh biologis dan tubuh simbolik (Mary Douglas, 1966). Tubuh saya secara biologis milik saya. Tapi secara simbolik, ia hidup di mata orang lain. Dan di sanalah konflik kecil ini tumbuh—bukan dramatis, tapi menggelitik.

Saya tidak jadi vasektomi. Untuk sekarang. Bukan karena takut pisau. Tapi karena saya sedang belajar: ternyata melepaskan kemungkinan juga butuh kesepakatan sosial. Dan itu lebih rumit dari sekadar tindakan medis.

Mungkin suatu hari saya akan kembali ke meja itu. Dengan usia lebih matang. Dengan narasi lebih jinak. Atau mungkin tidak. Tidak apa-apa. Tubuh ini masih saya huni dengan sadar. Dan itu, menurut saya, sudah cukup maskulin.

Lagipula, kata relasi saya benar juga.
Laki-laki masih gagah di usia 40.
Tapi kadang, kegagahan tertinggi justru ada pada keberanian berkata: saya sudah cukup.


You May Also Like

0 komentar