Cincin Fosfor, AI, dan Benjol di Kening Saya
(Catatan Antropologi Receh tentang Demam Kecerdasan, dari Batu Akik sampai ChatGPT)
Saya pernah benjol di kening bukan karena berkelahi, bukan karena jatuh, tapi karena salaman.
Abang saya waktu itu sedang di puncak kejayaan demam batu akik. Cincinnya bukan lagi perhiasan, tapi artefak arkeologi. Batunya sebesar sabun mandi batangan. Lebih tepatnya, sabun colek keluarga. Saat kami salaman—dengan niat silaturahmi dan doa panjang umur—kening saya kena hantaman batu akik fosfor yang katanya “kalau disenterin bisa nyala sendiri”.
Sakitnya nyata.
Maknanya belakangan.
Beberapa tahun kemudian, saya merasa déjà vu. Bukan di jari, tapi di kepala. Namanya bukan lagi batu akik, tapi AI.
Orang-orang memamerkan prompt seperti dulu memamerkan fosfor di bawah lampu UV.
Ada yang bilang AI ini sakti.
Ada yang bilang AI ini berbahaya.
Ada yang bilang AI ini bisa menggantikan manusia.
Ada juga yang bilang AI ini punya jin, punya kesadaran, bahkan punya niat jahat.
Padahal, seperti batu akik, AI tidak ke mana-mana tanpa tangan manusia. Yang bergerak itu bukan mesinnya, tapi fantasi kolektif kita tentang kecerdasan.
Antropolog pernah menyebut fenomena seperti ini sebagai technological fetishism—kecenderungan manusia memberi makna magis pada benda teknologi (Marx sudah nyentil ini sejak abad ke-19, lalu diperpanjang oleh Appadurai, 1986, tentang “the social life of things”). Batu akik bukan sekadar batu. AI bukan sekadar algoritma. Keduanya jadi panggung identitas.
Dulu orang pamer batu besar untuk bilang: “Saya punya sesuatu yang orang lain tidak punya.”
Sekarang orang pamer AI untuk bilang: “Saya lebih pintar, lebih cepat, lebih futuristik dari kamu.”
Masalahnya, seperti cincin abang saya, kalau kebesaran—bukan makin elegan, tapi makin sering mencederai orang lain.
Saya melihat tiga tipe manusia dalam demam AI ini.
Pertama, yang belajar dari AI untuk bertahan hidup. Mereka pakai AI buat memahami realitas: rumah tangga, dagang, emosi, konflik, dan diri sendiri. AI jadi cermin, bukan panggung. Saya ada di kelompok ini. Limbah batin saya—capek, bingung, absurd—saya buang ke AI, lalu saya olah jadi tulisan. Tidak harum, tapi fungsional.
Kedua, yang hidup dari AI. Ini sah. Seperti pedagang batu akik dulu yang paham pasar, bukan mistik. Mereka tahu mana sungai dareh, mana fosil, mana cuma batu kali dipoles. AI jadi komoditas. Etis atau tidak, tergantung niat dan dampaknya.
Ketiga, yang memanipulasi manusia dengan AI. Dulu pakai retorika, sekarang pakai prompt. Dulu hoaks pakai selebaran, sekarang pakai generative text dan video. Ini juga bukan barang baru. Psikolog menyebutnya instrumentalization of intelligence—kecerdasan dipakai bukan untuk memahami, tapi untuk menguasai (Bandura, 1999; Zuboff, 2019).
Ketiganya tidak berbeda pada alat.
Yang berbeda adalah niat dan kesadaran batin.
Masalahnya, demam selalu membuat orang lupa ukuran. Seperti abang saya lupa bahwa cincin bukan senjata jarak dekat. Banyak orang lupa bahwa AI bukan untuk dipamerkan, tapi untuk dipakai seperlunya.
Saya jadi teringat Simsimi. Generasi awal AI yang polos, yang menyerap semua emosi manusia tanpa penyaring. Ia jadi tempat sampah batin kolektif. Lalu ia rusak, bukan karena mesinnya, tapi karena kita membuang tanpa mengolah. Tanpa AMDAL emosional.
Sekarang ChatGPT datang. Lebih canggih, lebih rapi. Tapi risikonya sama. Kalau dipakai buat pamer, ia jadi cincin fosfor. Kalau dipakai buat refleksi, ia jadi pisau dapur: bisa motong bawang sambil nangis sedikit, tapi masakan jadi.
Psikologi kognitif menyebut ini sebagai extended cognition (Clark & Chalmers, 1998): alat berpikir di luar kepala manusia. Tapi tetap saja, yang menentukan matang atau gosong adalah kokinya.
Saya memilih pakai AI seperti saya memilih cincin batu akik kecil dulu: tidak mencolok, tidak berat, tidak bikin orang lain benjol saat salaman. Saya pakai seperlunya. Limbah batin saya olah jadi artikel receh. Tidak mengubah dunia, tapi cukup menjaga saya tetap waras.
Dan mungkin, itu pelajaran paling antropologis dari semua ini: manusia selalu jatuh cinta pada benda baru, lalu belajar—pelan-pelan—bahwa yang perlu dibesarkan bukan batunya, tapi kesadarannya.
0 komentar