Antropologi Receh: Tentang Mengepel, CEO Menyamar, dan Cara Kita Menghormati Manusia
Ini antropologi receh yang Dulu saya pernah menulis drama Cina yang absurd.
Ceritanya klise tapi ampuh: seorang CEO menyamar jadi orang kecil.
Disuruh ngepel.
Bukan ngepel lantai—ngepel harga diri.
Adegan favorit saya bukan saat identitasnya terbongkar.
Tapi justru sebelum itu:
bagaimana orang-orang memperlakukannya saat mereka yakin dia tidak penting.
Di situlah antropologi receh duduk sambil ngopi.
Karena cara paling jujur menilai manusia
bukan saat ia berhadapan dengan atasan,
melainkan saat ia merasa tidak perlu sopan.
Saya sering bilang ke diri sendiri:
kalau saya hanya menghormati orang yang dianggap besar,
itu bukan tanda saya hebat.
Itu tanda saya kecil dan ketakutan.
Manusia sering keliru mengira hormat itu hierarkis.
Padahal hormat itu etis.
Bukan soal siapa kamu, tapi bagaimana saya memilih bersikap.
Di dunia hiburan, kantor, sampai esports—polanya sama.
Player yang lagi jaya dipuja.
Begitu performa turun, kontrak habis, drama muncul—
langsung dianggap “bocil”, “nggak profesional”, “ya pantes jatuh”.
Padahal seringkali mereka bukan jahat.
Mereka belum sempat diajari cara menjadi manusia dewasa
di ruang yang tiba-tiba penuh uang, ego, dan sorotan.
Antropologi receh tidak buru-buru menghakimi.
Ia bertanya pelan:
“Siapa yang mendidik mereka? Sistemnya seperti apa?
Dan kenapa kita kaget ketika manusia muda bertingkah seperti manusia muda?”
Drama CEO menyamar itu sebenarnya bukan soal miskin-kaya.
Itu soal siapa yang pantas diperlakukan dengan bermartabat.
Dan jawaban antropologi—yang receh tapi jujur—adalah:
semua orang.
Tanpa perlu menyamar jadi siapa pun.
Karena kalau saya bisa bersikap adil
kepada yang tidak punya jabatan,
tidak viral,
tidak berguna untuk saya—
berarti saya tidak sedang membesarkan ego.
Saya sedang menjaga kemanusiaan.
Dan itu, menurut saya,
ilmu paling mahal yang sering lahir
dari pengamatan paling receh. 😅
0 komentar