Antropologi Tawuran (Versi Upgrade): Dari Bak-Bik-Buk ke Keyboard Warrior

by - 6:00 AM

Sejujurnya, semua ini saya lakukan bukan karena saya rajin membaca teori sosial.

Ini murni naluri paling purba dalam diri manusia modern:
gue nggak mau ribet.

Naluri itu muncul bukan dari kemalasan, tapi dari pengalaman mengamati terlalu banyak drama yang sebenarnya bisa dihindari. Ada sekolah yang sudah berdiri puluhan tahun, prestasinya naik-turun, kurikulumnya ganti menteri, tapi satu hal konsisten: wajib bermusuhan. Seolah-olah konflik itu mata pelajaran wajib, meski tidak tercantum di rapor.

Katanya ini fase mencari jati diri.
Saya tidak menertawakan istilah itu—secara akademik, Erik Erikson memang menulis bahwa remaja hidup dalam krisis identitas. Tapi entah sejak kapan krisis identitas harus diselesaikan dengan bak-bik-buk dan tumbal fisik.

Dalam perspektif antropologi konflik, tawuran bukan soal emosi sesaat. Ia ritual. Ada simbol, ada wilayah, ada musuh turun-temurun yang bahkan murid barunya tidak tahu asal-usulnya. Yang penting benci dulu, alasan menyusul belakangan. René Girard menyebut ini sebagai mekanisme kambing hitam—kekerasan kolektif untuk meredakan ketegangan internal kelompok.

Masalahnya, kambing hitamnya manusia beneran.

Belakangan, saya melihat pergeseran yang cukup menghibur—dan jujur saja, melegakan. Arena pertarungan antar sekolah mulai pindah ke e-sport. Dari gang sempit ke layar lebar. Dari sajam ke joystick. Dari darah ke sinyal Wi-Fi.

Dan saya berpikir:
ya sudah, biarkan saja.

Tawuran online terdengar konyol, tapi secara antropologis ini kemajuan. Dari physical violence ke symbolic violence, meminjam istilah Pierre Bourdieu. Yang babak belur bukan tulang, tapi ego. Tumbalnya bukan fisik, tapi psikis—dan itu pun relatif aman karena ada fitur block, mute, atau kabur jadi akun alter dengan nama anime.

Preman layar, keyboard warrior, jagoan kolom komentar—semuanya mungkin menyebalkan, tapi tingkat fatalitasnya rendah. Kalau tersinggung, tinggal tutup aplikasi. Tidak perlu UGD, tidak perlu visum.

Ini mungkin terdengar sinis, tapi saya melihatnya sebagai bentuk sublimasi kolektif. Freud pasti akan tersenyum kecil: dorongan agresif tidak dihapus, hanya dialihkan ke medan yang lebih murah biaya sosialnya.

Dan di sinilah naluri “nggak mau ribet” saya bekerja maksimal.

Saya tidak sedang membangun anak saya jadi manusia steril konflik. Itu mustahil dan tidak sehat. Tapi saya memilih medan konflik yang risikonya masuk akal. Bukan karena saya penakut, tapi karena saya cukup lama duduk sebagai pengamat untuk tahu: tidak semua pertarungan layak dimenangkan, apalagi diulang.

Abang saya—si veteran tawuran yang selamat itu—mungkin tidak pernah membaca Erikson, Girard, atau Bourdieu. Tapi tubuhnya menyimpan arsip yang sama. Ketika ia bercanda soal tawuran masa kini, ada nada yang tidak bisa disembunyikan:
“cukup gue saja.”

Dalam antropologi, ini disebut intergenerational learning, walaupun sering datang dalam bentuk lelucon kasar dan sindiran setengah sadar. Pengetahuan yang tidak ditulis, tapi diwariskan lewat pilihan hidup.

Maka jika hari ini saya membiarkan konflik pindah ke dunia maya, membiarkan adu gengsi terjadi di leaderboard, chat room, atau turnamen e-sport—itu bukan pembiaran. Itu manajemen risiko.

Sejarah konyol tidak selalu perlu dihapus.
Cukup jangan diulang dengan cara yang sama.

Dan kalau ada yang bertanya,
“Ini parenting model apa?”

Saya jawab jujur:
antropologi receh berbasis insting bertahan hidup.

Tanpa heroisme.
Tanpa romantisasi luka.
Dan yang terpenting: tanpa ribet.


You May Also Like

0 komentar